Berbisnis sekaligus berdakwah.
Kami memberikan kesempatan bagi profesional muda untuk bergabung dengan PT. Takaful Indonesia Sebagai wahana bisnis sesuai dengan Syariah dan dakwah bila anda :
1. Memiliki jiwa Entrepreneur,
2. Senang dengan tantangan
3. Ber akhlaqul karimah
4. Mudah bergaul
5. Memiliki kendaraan min. roda dua
6. Bersedia mengikuti training training
Benefit yang di dapatkan :
1. Penghasilan tidak terbatas
2. Komisi, bonus,
3. THR atau FK ramadhan
4. Kontes Umroh gratis
5. Bonus Rekrut
6. Carrier Paln Menarik
7. Fasilitas Asuransi
8. Training training Free
Segera hubungi 021 7991234 Ext, 1004 hp, 08123026272 atau kirimkan email: asyari@takaful.com sebelum 20 Januari 2009.
Mari kita sempurnakan ikhtiar dengan membangun ekonomi syariah.
5.
Rabu, 14 Januari 2009
Seri Perencanaan keuangan 4
TIPS MEMILIH ASURANSI
Di zaman modern seperti sekarang ini hamper tidak ada yang tidak membutuhkan Asuransi, Asuransi Jiwa untuk memberikan perlindungan akan resiko bila terjadi musibah yang menimpa sesorang, misalnya ; Meninggal terlalu cepat, Sakit, Kecelakaan yang membutuhkan perawatan serius, terkena penyakit kritis, Cacat Tetap total, Meninggal terlalu lama. Manusia di wajibkan beikhtiar memperkecil resiko ekonomi yang terjadi Seperti sebuah hadits nabi yang menjadi lagu “DEMI MASSA” agar kita menjaga lima perkara sebelum datang lima perkara,
“ Pergunakanlah lima hal sebelum datangnya lima perkara; Muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit dan hidup sebelum mati.” (Hadist riwayat Muslim).
Sedangkan Asuransi General (Umum) memberikan perlindungan terhadap harta benda kita dari resiko kerugian yang mungkin terjadi.
Namun demikian tidak semua produk Asuransi dalam waktu yang bersamaan di ambil, kita harus bijak dan tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dan prioritasnya
Berikut ini sekedar Tips memilih asuransi Syariah ;
1. Buat sebuah analisa atau kalau memungkinkan konsultasikan dengan perencana keuangan, atau setidaknya buat analisa kebutuhan prioritas asuransi mana yang di perlukan.
2. Pilih perusahaan asuransi yang Sehat , perhatikan tingkat solvabilitasnya atau RBC nya sesuai dengan ketentuan Depkeu, atau sekurang kurang nya ada keterangan Depkeu perihal tersebut.
3. Perhatikan Cadangan Resikonya di laporan Rugi laba, asuransi yang sehat total asset harus lebih besar dari tingkat resiko yang harus ditanggung.
4. Memiliki modal setor sesuai ketentuan
5. Investasi yang di lakukan tidak menyimpang dari ketentuan Depkeu, transparan dan tidak bertentangan dengan Syariah
6. Prestasi perusahaan bisa di lihat dari rating yang di buat berbagai media
7. Memiliki standart mutu misalnya ISO
8. Diskusikan dengan agen yang professional,tanyakan hingga detail terkait dengan produk, hak dan kewajiban. Serta hukum polisnya.
9. Survey ke kantor perusahaan tersebut untuk lebih meyakinkan segala sesuatunya.
10. Jangan lupa niatkan untuk sebagai wasilah “ta’awun” salin tolong menolong sehingga bernilai ibadah.
Selamat mencoba …
Wallohu a’lam bi showab
Asyari
Kunjungi htt//insankarima.blogsport.com
Di zaman modern seperti sekarang ini hamper tidak ada yang tidak membutuhkan Asuransi, Asuransi Jiwa untuk memberikan perlindungan akan resiko bila terjadi musibah yang menimpa sesorang, misalnya ; Meninggal terlalu cepat, Sakit, Kecelakaan yang membutuhkan perawatan serius, terkena penyakit kritis, Cacat Tetap total, Meninggal terlalu lama. Manusia di wajibkan beikhtiar memperkecil resiko ekonomi yang terjadi Seperti sebuah hadits nabi yang menjadi lagu “DEMI MASSA” agar kita menjaga lima perkara sebelum datang lima perkara,
“ Pergunakanlah lima hal sebelum datangnya lima perkara; Muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit dan hidup sebelum mati.” (Hadist riwayat Muslim).
Sedangkan Asuransi General (Umum) memberikan perlindungan terhadap harta benda kita dari resiko kerugian yang mungkin terjadi.
Namun demikian tidak semua produk Asuransi dalam waktu yang bersamaan di ambil, kita harus bijak dan tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dan prioritasnya
Berikut ini sekedar Tips memilih asuransi Syariah ;
1. Buat sebuah analisa atau kalau memungkinkan konsultasikan dengan perencana keuangan, atau setidaknya buat analisa kebutuhan prioritas asuransi mana yang di perlukan.
2. Pilih perusahaan asuransi yang Sehat , perhatikan tingkat solvabilitasnya atau RBC nya sesuai dengan ketentuan Depkeu, atau sekurang kurang nya ada keterangan Depkeu perihal tersebut.
3. Perhatikan Cadangan Resikonya di laporan Rugi laba, asuransi yang sehat total asset harus lebih besar dari tingkat resiko yang harus ditanggung.
4. Memiliki modal setor sesuai ketentuan
5. Investasi yang di lakukan tidak menyimpang dari ketentuan Depkeu, transparan dan tidak bertentangan dengan Syariah
6. Prestasi perusahaan bisa di lihat dari rating yang di buat berbagai media
7. Memiliki standart mutu misalnya ISO
8. Diskusikan dengan agen yang professional,tanyakan hingga detail terkait dengan produk, hak dan kewajiban. Serta hukum polisnya.
9. Survey ke kantor perusahaan tersebut untuk lebih meyakinkan segala sesuatunya.
10. Jangan lupa niatkan untuk sebagai wasilah “ta’awun” salin tolong menolong sehingga bernilai ibadah.
Selamat mencoba …
Wallohu a’lam bi showab
Asyari
Kunjungi htt//insankarima.blogsport.com
Rabu, 07 Januari 2009
Seri Perencanaan Keuangan 3
Mengapa Asuransi Dibutuhkan ?
Dalam dunia modern seperti sekarang ini hampir tidak ada yang tidak membutuhkan akan jasa Asuransi baik Asuransi jiwa maupun Kerugian.
Ada beberapa hal yang menjadi alasan pokok kenapa Asuransi di butuhkan
1. Fitrah manusia agar hari esok lebih baik
Tidak ada yang mengharapkan masa depan tidak lebih baik, baik bagi dirinya sendiri maupun keturunannya, sebagaimana Firman allah :
“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Hasyr : 18 )
Asuransi menjadi salah satu ikhtiar merenacanaka masa depanlebih baik melalui program program nya yang membantu merancang masa depan lebih baik, misalkan bagaimana mempersiapka cadangan dan pendidikan bagi anak, merancang dana hari tua, dan sebagainya.
2. Tidak Meninggalkan Keturunan yang lemah
Di antara fitrah manusia dan juga menjadi kewajiban sebagai khalifah di muka bumi adalah menjaga kelangsungan keturunan dengan membangun keluarga yang terdiri dari istri dan anak anak. Suatu kebahagian tersendiri bila seseorang mampu membina keluarga sakinah sehingga melahirkan kesehjahteraan, dan menjadi suatu kewajiban agak tidak meninggalkan keturunan yang lemah;
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”
3. Senantiasa berikhtiar dalam upaya memperkecil Resiko bila terjadi musibah
Sebuah hadits Nabi yang sangat popular “ Jagalah lima perkara sebelumnya datangnya lima perkara, Muda sebelum datangnya tua, Sehat sebelum dating sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sempit, hidup sebelum mati”
Segala malapetaka dan bencana tersebut merupakan qadha dan qadar Allah SWT, namun manusia (Muslim) wajib berikhtiar melakukan tindakan berjaga-jaga untuk memperkecil resiko yang ditimbulkan oleh bencana dan malapetaka tersebut.
Asuransi sebagai sebuah mekanisme saling menanggung bagi sebuah perlindungan, merupakan langkah yang tepat untuk seseorang dalam membagi atau mengalihkan suatu resiko, karena asuransi menjawab kebutuhan rasa aman bagi setiap orang.
4. Saling Tolong menolong dengan sesama
Manusia selain menjadi makhluk pribadi juga menjadi makhluk social, adanya suatu tuntutan untuk saling ta’awun satu dengan yang lain, F’irman Allah ;
‘’…Dan hendaklah diantara kamu saling bertolong menolong dalam kebaikan dan taqwa dan jangan lah bertolong menolong dalam perbuatan dosa dan kemaksiatan ..” (Almaidah : 2 )
Dengan bertabaru’ melalui asuransi merupakan wujud perlindungan bukan hanya untuk dirinya tetapi juga saling menanggung bila terjadi musibah di antara sesame peserta.
Asyari 08/01/09
Dalam dunia modern seperti sekarang ini hampir tidak ada yang tidak membutuhkan akan jasa Asuransi baik Asuransi jiwa maupun Kerugian.
Ada beberapa hal yang menjadi alasan pokok kenapa Asuransi di butuhkan
1. Fitrah manusia agar hari esok lebih baik
Tidak ada yang mengharapkan masa depan tidak lebih baik, baik bagi dirinya sendiri maupun keturunannya, sebagaimana Firman allah :
“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Hasyr : 18 )
Asuransi menjadi salah satu ikhtiar merenacanaka masa depanlebih baik melalui program program nya yang membantu merancang masa depan lebih baik, misalkan bagaimana mempersiapka cadangan dan pendidikan bagi anak, merancang dana hari tua, dan sebagainya.
2. Tidak Meninggalkan Keturunan yang lemah
Di antara fitrah manusia dan juga menjadi kewajiban sebagai khalifah di muka bumi adalah menjaga kelangsungan keturunan dengan membangun keluarga yang terdiri dari istri dan anak anak. Suatu kebahagian tersendiri bila seseorang mampu membina keluarga sakinah sehingga melahirkan kesehjahteraan, dan menjadi suatu kewajiban agak tidak meninggalkan keturunan yang lemah;
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”
3. Senantiasa berikhtiar dalam upaya memperkecil Resiko bila terjadi musibah
Sebuah hadits Nabi yang sangat popular “ Jagalah lima perkara sebelumnya datangnya lima perkara, Muda sebelum datangnya tua, Sehat sebelum dating sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sempit, hidup sebelum mati”
Segala malapetaka dan bencana tersebut merupakan qadha dan qadar Allah SWT, namun manusia (Muslim) wajib berikhtiar melakukan tindakan berjaga-jaga untuk memperkecil resiko yang ditimbulkan oleh bencana dan malapetaka tersebut.
Asuransi sebagai sebuah mekanisme saling menanggung bagi sebuah perlindungan, merupakan langkah yang tepat untuk seseorang dalam membagi atau mengalihkan suatu resiko, karena asuransi menjawab kebutuhan rasa aman bagi setiap orang.
4. Saling Tolong menolong dengan sesama
Manusia selain menjadi makhluk pribadi juga menjadi makhluk social, adanya suatu tuntutan untuk saling ta’awun satu dengan yang lain, F’irman Allah ;
‘’…Dan hendaklah diantara kamu saling bertolong menolong dalam kebaikan dan taqwa dan jangan lah bertolong menolong dalam perbuatan dosa dan kemaksiatan ..” (Almaidah : 2 )
Dengan bertabaru’ melalui asuransi merupakan wujud perlindungan bukan hanya untuk dirinya tetapi juga saling menanggung bila terjadi musibah di antara sesame peserta.
Asyari 08/01/09
Senin, 29 Desember 2008
Hikmah
Siapa di antara Kita yang Paling Mengenalnya-Nya?
H
Atim Al ahsam rahimahullah. Laki-laki yang banyak keturunannya, namun sedikit kekayaannya. Kelebihannya, ia seorang shalih yang sangat tinggi ketawakalannya kepada Allah, dan sungguh- sungguh dalam beribadah. Keshalihan Hatim, tertuang dalam salah satu ucapannya.”Pernah suatu hari saya ditanya,”Apakah engkau ingin sesuatu ?”Aku jawab, “Aku ingin selalu sehat dari pagi hingga malam hari”. Aku ditanya lagi, “Bukankah engkau sehat selama seharian?” Aku jawab,”sehat menurutku adalah tidak menjalankan dosa dari pagi hingga malam”.
Sedang tentang ketawakalannya, ia pernah mengatakan, “Tiada waktu pagi datang melainkan setan mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggoda, “Apa yang akan engkau makan ?” Apa yang akan engkau pakai ?di manakah engkau akan tinggal.” Saya tidak ingin hanyut dalam jebakan pertanyaan itu, maka saya cukup menjawabnya,”Saya akan makan kematian, mengenakan kain kafan, dan tinggal di liang lahat.
Saudaraku,
Suatu malam,Hatim berbincang bincang dengan para sahabatnya. Saat itu,pembicaraan mengarah hingga membahas masalah naik haji ke Baitullah. Kerinduan bisa berkunjung ke Masjidil Haram pun menyusup dalam di hati Hatim Al Asham. Pulang ke rumah, ia duduk di hadapan anak-anaknya dan berbicara kepada mereka.”Apakah kalian izinkan ayah kalian pergi ke Baitullah tahun ini untuk menunaikan haji, ayah akan mendo’akan kalian di sana...”Istri dan anak-anaknya terkejut. Dalam waktu yang bersamaan mereka mengatakan,”Ayah dalam kondisi tidak punya apa-apa,dan kami juga dalam keadaan miskin. Bagaimana mungkin ayah ingin berangkat haji dan meninggalkan kami dalam kondisi seperti ini?”
Suasana menjadi hening. Hatim Al Asham sudah menduga keterkujutan dan jawaban seperti itu. Tapi tiba-tiba seorang anak perempuannya yang masih kecil mengatakan lain. “Kalian hanya diminta mengizinkan ayah untuk pergi haji. Bukankah itu tidak memberatkan kalian? Biarkanlah ayah naik haji ke Baitullah, karena ia hanya penyalur rizki dan bukan pembeeri rizki.” Perkataan anak perempuan kecil Hatim segera merubah pandangan keluarga Hatim yang akhirnya mereka sepakat dan mengatakan bahwa apa yang dikatakan adik kecil itu benar adanya. “Pergilah ayah ke Baitullah tahun ini,” ujar salah seorang putra Hatim.
Saudaraku,
Sejak itulah Hatim Al Asham melakukan ragam persiapan untuk menyambut musim haji tiba. Beberapa bulan sebelum datang musim haji, Hatim Al Asham berangkat menempuh perjalanan menuju Baitullah. Para tetangga berdatangan menemui keluarga Hatim dan mempersalahkan keluarga Hatim yang membiarkan Hatim pergi tanpa meninggalkan makanan untuk keluarganya. Begitu ramainya pembicaraan miring terhadap sikap Hatim,hingga keluarganya turut terbawa dan menyalahkan puteri kecil Hatim yang dahulu meminta agar sang ayah diizinkan pergi haji. “Seaindainya waktu itu engkau tidak berbicara, pasti ia akan tetap tinggal di rumah,” ujar salah seorang mereka. Mendengar perkataan itu,puteri Hatim mengangkat tangannya ke langit dan mengatakan,”Allahumma,Ya Allah,Ya Rabb ku, aku sampaikan kepada kaumku tentang Kemurahan-Mu,dan bahwa sesungguhnya Engkau takkan membiarkan mereka dalam kondisi seperti ini. Ya Allah,jangan Engkau kecewakan mereka, dan jangan Engkau permalukan aku di hadapan mereka.”
Tak lama setelah itu, rumah Hatim Al Asham didatangi oleh seorang walikota bersama rombongannya yang datang kehausan. Istri Hatim mengangkat tangannya ke langit dan mengatakan, ”Allahumma,Ya Allah,Ya Rabb ku, Maha suci Engkau. Tadi malam kami tidur dalam kondisi lapar. Tapi hari ini, seorang penguasa datang ke rumah untuk meminta minum.” Sang walikota dijelaskan, bahwa itu adalah rumah milik seorang shalih bernama Hatim Al Asham. Nama Hatim Al Asham,ternyata sudah pernah sampai ke telinga walikota. Ia lalu mengatakan, tidak baik bila dirinya dan rombongan yang telah membebani keluarga Hatim tapi tidak bisa memberi balasan kepada mereka.
Singkat kisah, salaha satu rombongan walikota memberi uang banyak kepada keluarga Hatim. Melihat uang itu, puteri Hatim menangis keras hingga membuat rombongan walikota terkejut dan berusaha menenangkannya. Tapi puteri Hatim itu mengatakan pada ibunya,”Ibu, tangisku karena memikirkan bagaimana tadi malam kita tidur dalam kondisi lapar. Sementara sekadar ada seorang makhluk melihat kita, lalu Allah swt menjadikan kita kaya. Sungguh Allah Yang Maha Murah Yang Maha Pencipta,Dia Yang Memperhatikan kita,Dia tak membiarkan kita sekejap matapun. Ya Allah, pandanglah ayah kami yang sedang pergike Baitullah. Peliharalah dia dengan sebaik-baiknya.”
Hatim dalam perjalanannya ke Baitullah bertemu dengan kafilah yang sedang mencari orang yang bisa mengobati salah satu pimpinan mereka. Dengan do’a Hatim, orang itu sembuh dan memberi makan dan minum Hatim. Di malam harinya, Hatim bermimpi ada suara yang berkata padanya,”Wahai Hatim,barangsiapa yang baik hubungannya dengan Tuhannya, maka Tuhannya akan memperbaiki hubungan-Nya dengan orang itu.”
Saat pulang dari menunaikan ibadah haji. Hatim mendengar kisah yang terjadi dalam keluarganya. Ia menangis. Ketika itu, meluncurlah ungkapan dari mulutnya,”Sesungguhnya Allah tidak melihat pada tua mudanya kalian. Tapi Allah memandang siapa diantara kalian yang paling mengenal-Nya. Maka, kenalilah Allah dan bertawakkallah kepada-Nya. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.”
Saudaraku,
Ingatlah perkataan Ibnul Jauzi dalan Shaidu al Khathir, “Ketahuilah bahwa jalan menuju Allah swt tidak ditempuh dengan langkah kaki,melainkan di tempuh dengan hati.” Mari kita resapi lagi jawaban Hatim Al Asham yang wafat pada 237 H. Ketika ditanya, “Atas dasar apa engkau begitu tawakal kepada Allah?” lelaki shalih itu menjawab,”Atas empat hal : aku yakin rezekiku tidak akan dimakan orang. Karena itu,aku tenang. Aku yakin amalku tidak akan dekerjakan orang. Karena itu, aku sibuk beramal. Aku yakin kematian akan datang detang tiba-tiba. Karena itu aku selalu siap menghadapinya. Dan aku yakin bahwa aku tidak mungkin lepas dari pengawasan Allah. Karena itu, aku malu dari-Nya.”
Sumber Majalah Tarbawi
H
Atim Al ahsam rahimahullah. Laki-laki yang banyak keturunannya, namun sedikit kekayaannya. Kelebihannya, ia seorang shalih yang sangat tinggi ketawakalannya kepada Allah, dan sungguh- sungguh dalam beribadah. Keshalihan Hatim, tertuang dalam salah satu ucapannya.”Pernah suatu hari saya ditanya,”Apakah engkau ingin sesuatu ?”Aku jawab, “Aku ingin selalu sehat dari pagi hingga malam hari”. Aku ditanya lagi, “Bukankah engkau sehat selama seharian?” Aku jawab,”sehat menurutku adalah tidak menjalankan dosa dari pagi hingga malam”.
Sedang tentang ketawakalannya, ia pernah mengatakan, “Tiada waktu pagi datang melainkan setan mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggoda, “Apa yang akan engkau makan ?” Apa yang akan engkau pakai ?di manakah engkau akan tinggal.” Saya tidak ingin hanyut dalam jebakan pertanyaan itu, maka saya cukup menjawabnya,”Saya akan makan kematian, mengenakan kain kafan, dan tinggal di liang lahat.
Saudaraku,
Suatu malam,Hatim berbincang bincang dengan para sahabatnya. Saat itu,pembicaraan mengarah hingga membahas masalah naik haji ke Baitullah. Kerinduan bisa berkunjung ke Masjidil Haram pun menyusup dalam di hati Hatim Al Asham. Pulang ke rumah, ia duduk di hadapan anak-anaknya dan berbicara kepada mereka.”Apakah kalian izinkan ayah kalian pergi ke Baitullah tahun ini untuk menunaikan haji, ayah akan mendo’akan kalian di sana...”Istri dan anak-anaknya terkejut. Dalam waktu yang bersamaan mereka mengatakan,”Ayah dalam kondisi tidak punya apa-apa,dan kami juga dalam keadaan miskin. Bagaimana mungkin ayah ingin berangkat haji dan meninggalkan kami dalam kondisi seperti ini?”
Suasana menjadi hening. Hatim Al Asham sudah menduga keterkujutan dan jawaban seperti itu. Tapi tiba-tiba seorang anak perempuannya yang masih kecil mengatakan lain. “Kalian hanya diminta mengizinkan ayah untuk pergi haji. Bukankah itu tidak memberatkan kalian? Biarkanlah ayah naik haji ke Baitullah, karena ia hanya penyalur rizki dan bukan pembeeri rizki.” Perkataan anak perempuan kecil Hatim segera merubah pandangan keluarga Hatim yang akhirnya mereka sepakat dan mengatakan bahwa apa yang dikatakan adik kecil itu benar adanya. “Pergilah ayah ke Baitullah tahun ini,” ujar salah seorang putra Hatim.
Saudaraku,
Sejak itulah Hatim Al Asham melakukan ragam persiapan untuk menyambut musim haji tiba. Beberapa bulan sebelum datang musim haji, Hatim Al Asham berangkat menempuh perjalanan menuju Baitullah. Para tetangga berdatangan menemui keluarga Hatim dan mempersalahkan keluarga Hatim yang membiarkan Hatim pergi tanpa meninggalkan makanan untuk keluarganya. Begitu ramainya pembicaraan miring terhadap sikap Hatim,hingga keluarganya turut terbawa dan menyalahkan puteri kecil Hatim yang dahulu meminta agar sang ayah diizinkan pergi haji. “Seaindainya waktu itu engkau tidak berbicara, pasti ia akan tetap tinggal di rumah,” ujar salah seorang mereka. Mendengar perkataan itu,puteri Hatim mengangkat tangannya ke langit dan mengatakan,”Allahumma,Ya Allah,Ya Rabb ku, aku sampaikan kepada kaumku tentang Kemurahan-Mu,dan bahwa sesungguhnya Engkau takkan membiarkan mereka dalam kondisi seperti ini. Ya Allah,jangan Engkau kecewakan mereka, dan jangan Engkau permalukan aku di hadapan mereka.”
Tak lama setelah itu, rumah Hatim Al Asham didatangi oleh seorang walikota bersama rombongannya yang datang kehausan. Istri Hatim mengangkat tangannya ke langit dan mengatakan, ”Allahumma,Ya Allah,Ya Rabb ku, Maha suci Engkau. Tadi malam kami tidur dalam kondisi lapar. Tapi hari ini, seorang penguasa datang ke rumah untuk meminta minum.” Sang walikota dijelaskan, bahwa itu adalah rumah milik seorang shalih bernama Hatim Al Asham. Nama Hatim Al Asham,ternyata sudah pernah sampai ke telinga walikota. Ia lalu mengatakan, tidak baik bila dirinya dan rombongan yang telah membebani keluarga Hatim tapi tidak bisa memberi balasan kepada mereka.
Singkat kisah, salaha satu rombongan walikota memberi uang banyak kepada keluarga Hatim. Melihat uang itu, puteri Hatim menangis keras hingga membuat rombongan walikota terkejut dan berusaha menenangkannya. Tapi puteri Hatim itu mengatakan pada ibunya,”Ibu, tangisku karena memikirkan bagaimana tadi malam kita tidur dalam kondisi lapar. Sementara sekadar ada seorang makhluk melihat kita, lalu Allah swt menjadikan kita kaya. Sungguh Allah Yang Maha Murah Yang Maha Pencipta,Dia Yang Memperhatikan kita,Dia tak membiarkan kita sekejap matapun. Ya Allah, pandanglah ayah kami yang sedang pergike Baitullah. Peliharalah dia dengan sebaik-baiknya.”
Hatim dalam perjalanannya ke Baitullah bertemu dengan kafilah yang sedang mencari orang yang bisa mengobati salah satu pimpinan mereka. Dengan do’a Hatim, orang itu sembuh dan memberi makan dan minum Hatim. Di malam harinya, Hatim bermimpi ada suara yang berkata padanya,”Wahai Hatim,barangsiapa yang baik hubungannya dengan Tuhannya, maka Tuhannya akan memperbaiki hubungan-Nya dengan orang itu.”
Saat pulang dari menunaikan ibadah haji. Hatim mendengar kisah yang terjadi dalam keluarganya. Ia menangis. Ketika itu, meluncurlah ungkapan dari mulutnya,”Sesungguhnya Allah tidak melihat pada tua mudanya kalian. Tapi Allah memandang siapa diantara kalian yang paling mengenal-Nya. Maka, kenalilah Allah dan bertawakkallah kepada-Nya. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.”
Saudaraku,
Ingatlah perkataan Ibnul Jauzi dalan Shaidu al Khathir, “Ketahuilah bahwa jalan menuju Allah swt tidak ditempuh dengan langkah kaki,melainkan di tempuh dengan hati.” Mari kita resapi lagi jawaban Hatim Al Asham yang wafat pada 237 H. Ketika ditanya, “Atas dasar apa engkau begitu tawakal kepada Allah?” lelaki shalih itu menjawab,”Atas empat hal : aku yakin rezekiku tidak akan dimakan orang. Karena itu,aku tenang. Aku yakin amalku tidak akan dekerjakan orang. Karena itu, aku sibuk beramal. Aku yakin kematian akan datang detang tiba-tiba. Karena itu aku selalu siap menghadapinya. Dan aku yakin bahwa aku tidak mungkin lepas dari pengawasan Allah. Karena itu, aku malu dari-Nya.”
Sumber Majalah Tarbawi
Kamis, 25 Desember 2008
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1430 H
HIJRAH MENUJU KEMENANGAN
Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi ada dua moment penting dalam perjalanan waktu, yakni perubahan tahun, secara kebetulan hanya beberapa hari jarak antara tahun baru hijriyah dengan tahun baru masehi. Respond dan tanggapan masyarakat berbeda beda, ada yang telahmempersipkan jauh sebelumnya, ada yang biasa biasa saja, ada yang menyambut dan merayakan dengan berbagai pesta pora. Tengoklah di Mall mall besar, hotel berbintang, tempat hiburan, serta villa di sepanjang puncak dari Bogor hingga Cianjur sudah penuh full boking sejak pertengahan bulan desember.
Suatu renungan yang patut di sayangkan adalah betapa tidak berimbangnya ucapan selamat, dan persiapan antara tahun baru Hijriyah dengan tahun baru Masehi, bahkan masih banyak yang tidak tahu kalau ada tahun baru hijrah. Padahal negri ini mayoritas Muslim, apa yang menjadi penyebabnya ?
Tahun baru Masehi tidak lebih dari perubahan tahun dari 2008 ke tahun 2009, makna subtansi dari perubahan hamper tidak ada, sementara itu tahun baru hijriyah memiliki makna hakekah yang patut di renungkan.
Perubahan adalah sebuah fitrah, yang tidak bisa di hindari, sebagai mana pepatah “ walaupun kita sudah pada rel yang benar, kalau hanya duduk duduk saja, maka akan terbabrak oleh kereta yang lewat”. Dengan demikian perubahan harus di sambut dengan niat menuju kesempurnaan melalui perbaikan, perubahan yang tidak membawa peningkatan kebaikan, tidaklah membawa manfaat kecuali penuaan belaka.
Makna Hijrah
Secara Harfiah hijrah adalah pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, yang di maksudkan di sini adalah pindahnya Rasululloh dari Makkah ke Madinah, ketika dakwah telah mencapai klimak dengan berbagai tantangan yang di hadapi oleh rasululloh dan para Sahabat, maka perintah hijrah memberikan pencerahan baru dalam penyebaran dakwah Islam.
Secara Singkat hikmah yang bisa di ambil dari Hijrah Rasulullah adalah sebagai berikut :
1. Sebagai langkah awal di mulainya Syariah Islam sescara utuh, bial di Makkah Dakwah Rasulullah baru meliputi penguatan Aqidah, di Madinah di mulainya penegakan syariah dalam segala aspek kehidupan, dari ibadah muamalah, hingga siasah dengan piagam Madinah .
2. Hijrah memberikan teladan agar manusia tidak berhenti berjuang dari membuat perencanaan hingga ke pelaksanaan dan evaluasi, Adalah bukan yang sulit apabila Rasulloh bermohon kepada Allah agar proses Hijrah semudah seperti peristiwa Isra dan Mi’rat, tetapi melalui perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan dan di perlukan strategi.
3. Hijrah sebagai bukti terciptanya Ukhuwah yang hakiki, betapa pengorbangan kaum Muhajirin yang telah meninggalkan negrinya dan hartanya di sambut dengan keikhlasan kaum Anshor dengan memberikan tempat tinggal harta bahkan ada yang menawarkan Isri yang lebih dari satu untuk di cerai dan stelah selesai idah akan di nikahkan.
Mengenahi makna Hijrah Makaniyah ini di sebutkan dalam Alquran ‘
“Sesungguhnya orang orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta, dan jiwanya pada jalan Allah (kaum Muhajirin) dan orang orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kaum anshor) merekan itu satu sama lain lindung-melindungi ( Al-anfal : 72)
Meskipun hijrah secara Makaniyah sudah tidak ada lagi sebagaimana hadits “ Tidak ada hijrah setelah penakhlukan kota mekkah , akan tetapi jihad dan niat, dan jika kalian di minta untuk pergi berjihad maka pergilah “. Namun masih ada hijrah maknawiyah yakni hijrah dalam bentuk perubahan nilai dari tidak menuju lebih baik.
Ada beberapa hal yang bisa di kategorikan hijrah maknawiyah di antaranya sebagai berikut ;
1. Meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat dan mengisi dengan amal kebaikan
Rasulululloh bersabda “ Muslim adalah seseorang yang menghindari menyakiti muslim yang lain dengan lidah tangannnya, dabn Muhajir (orang orang yang berhijrah) adalah orang orang yang meninggalkan semua apa apa yang Allah telah larang “ HR: Bukhori)
2. Menjaga pergaulan dari lingkungan yang Rusak,
Makna hijrah juga bisa dengan menghindari dari pergaulan yang yang merusak dan tidak mendekatkan diri dari mengingat Allah, dan harus memilih lingkungan yang lebih baik “ Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka (orang kafir) ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik ‘ (Al-Muzzamil : 10)
3. Beribadah kepada Allah pada saat sulit dan penuh fitnah
“ Beribadah pada saat masaharj (terkena fitnah/kondidi sulit) adalah seperti hijrah kepadaku” HR: Muslim).
4. Mengembangkan Prestasi dengan Ilmu pengetahuan dalam rangka membangun peradaban sesuai dengan Islam.
“ Orang Orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan itulah orang orang yang mendapat kemenangan. ‘Attaubah : 24)
Senantiasa ikhtiar dengan semua kemampuan agar menjadi lebih baik adalah hakekat dari hijrah saat ini. Dengan Sebuah tekat “ Hari Ini harus lebih baik dari Kemarin”
Untuk itu marilah moment tahun baru Hijriyah ini di jadikan tonggak langkah awal memulai kehidupan menuju yang di ridhoi Allah SWT.
“Selamat Tahun Baru Hijriyah “
Asyari 26/12-08
Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi ada dua moment penting dalam perjalanan waktu, yakni perubahan tahun, secara kebetulan hanya beberapa hari jarak antara tahun baru hijriyah dengan tahun baru masehi. Respond dan tanggapan masyarakat berbeda beda, ada yang telahmempersipkan jauh sebelumnya, ada yang biasa biasa saja, ada yang menyambut dan merayakan dengan berbagai pesta pora. Tengoklah di Mall mall besar, hotel berbintang, tempat hiburan, serta villa di sepanjang puncak dari Bogor hingga Cianjur sudah penuh full boking sejak pertengahan bulan desember.
Suatu renungan yang patut di sayangkan adalah betapa tidak berimbangnya ucapan selamat, dan persiapan antara tahun baru Hijriyah dengan tahun baru Masehi, bahkan masih banyak yang tidak tahu kalau ada tahun baru hijrah. Padahal negri ini mayoritas Muslim, apa yang menjadi penyebabnya ?
Tahun baru Masehi tidak lebih dari perubahan tahun dari 2008 ke tahun 2009, makna subtansi dari perubahan hamper tidak ada, sementara itu tahun baru hijriyah memiliki makna hakekah yang patut di renungkan.
Perubahan adalah sebuah fitrah, yang tidak bisa di hindari, sebagai mana pepatah “ walaupun kita sudah pada rel yang benar, kalau hanya duduk duduk saja, maka akan terbabrak oleh kereta yang lewat”. Dengan demikian perubahan harus di sambut dengan niat menuju kesempurnaan melalui perbaikan, perubahan yang tidak membawa peningkatan kebaikan, tidaklah membawa manfaat kecuali penuaan belaka.
Makna Hijrah
Secara Harfiah hijrah adalah pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, yang di maksudkan di sini adalah pindahnya Rasululloh dari Makkah ke Madinah, ketika dakwah telah mencapai klimak dengan berbagai tantangan yang di hadapi oleh rasululloh dan para Sahabat, maka perintah hijrah memberikan pencerahan baru dalam penyebaran dakwah Islam.
Secara Singkat hikmah yang bisa di ambil dari Hijrah Rasulullah adalah sebagai berikut :
1. Sebagai langkah awal di mulainya Syariah Islam sescara utuh, bial di Makkah Dakwah Rasulullah baru meliputi penguatan Aqidah, di Madinah di mulainya penegakan syariah dalam segala aspek kehidupan, dari ibadah muamalah, hingga siasah dengan piagam Madinah .
2. Hijrah memberikan teladan agar manusia tidak berhenti berjuang dari membuat perencanaan hingga ke pelaksanaan dan evaluasi, Adalah bukan yang sulit apabila Rasulloh bermohon kepada Allah agar proses Hijrah semudah seperti peristiwa Isra dan Mi’rat, tetapi melalui perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan dan di perlukan strategi.
3. Hijrah sebagai bukti terciptanya Ukhuwah yang hakiki, betapa pengorbangan kaum Muhajirin yang telah meninggalkan negrinya dan hartanya di sambut dengan keikhlasan kaum Anshor dengan memberikan tempat tinggal harta bahkan ada yang menawarkan Isri yang lebih dari satu untuk di cerai dan stelah selesai idah akan di nikahkan.
Mengenahi makna Hijrah Makaniyah ini di sebutkan dalam Alquran ‘
“Sesungguhnya orang orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta, dan jiwanya pada jalan Allah (kaum Muhajirin) dan orang orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kaum anshor) merekan itu satu sama lain lindung-melindungi ( Al-anfal : 72)
Meskipun hijrah secara Makaniyah sudah tidak ada lagi sebagaimana hadits “ Tidak ada hijrah setelah penakhlukan kota mekkah , akan tetapi jihad dan niat, dan jika kalian di minta untuk pergi berjihad maka pergilah “. Namun masih ada hijrah maknawiyah yakni hijrah dalam bentuk perubahan nilai dari tidak menuju lebih baik.
Ada beberapa hal yang bisa di kategorikan hijrah maknawiyah di antaranya sebagai berikut ;
1. Meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat dan mengisi dengan amal kebaikan
Rasulululloh bersabda “ Muslim adalah seseorang yang menghindari menyakiti muslim yang lain dengan lidah tangannnya, dabn Muhajir (orang orang yang berhijrah) adalah orang orang yang meninggalkan semua apa apa yang Allah telah larang “ HR: Bukhori)
2. Menjaga pergaulan dari lingkungan yang Rusak,
Makna hijrah juga bisa dengan menghindari dari pergaulan yang yang merusak dan tidak mendekatkan diri dari mengingat Allah, dan harus memilih lingkungan yang lebih baik “ Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka (orang kafir) ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik ‘ (Al-Muzzamil : 10)
3. Beribadah kepada Allah pada saat sulit dan penuh fitnah
“ Beribadah pada saat masaharj (terkena fitnah/kondidi sulit) adalah seperti hijrah kepadaku” HR: Muslim).
4. Mengembangkan Prestasi dengan Ilmu pengetahuan dalam rangka membangun peradaban sesuai dengan Islam.
“ Orang Orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan itulah orang orang yang mendapat kemenangan. ‘Attaubah : 24)
Senantiasa ikhtiar dengan semua kemampuan agar menjadi lebih baik adalah hakekat dari hijrah saat ini. Dengan Sebuah tekat “ Hari Ini harus lebih baik dari Kemarin”
Untuk itu marilah moment tahun baru Hijriyah ini di jadikan tonggak langkah awal memulai kehidupan menuju yang di ridhoi Allah SWT.
“Selamat Tahun Baru Hijriyah “
Asyari 26/12-08
Rabu, 24 Desember 2008
hikmah
MEMILIH CALON ISTRI
Seorang filosof ingin menikah. Kawan-kawannya mengajukan 3 gadis yang semuanya berparas cantik. Filofof itu menguji akhlak ketiga gadis itu dengan memberikan beberapa butir permata kepada mereka.
Gadis I menerima pemberian itu dengan perasaan gembira & mengucapkan terima kasih “ Selama hidup saya belum pernah melihat permata seindah ini” katanya.
Gadis II berkata:” Kalau permata ini ditambah dengan emas, pasti akan menjadi kalung yamg indah”
Gadis III berkata: “ Ambillah kembali permata ini dan simpanlah. Bagiku, cintamu sudah cukup”
Akhirnya filosof itu memilih gadis I sebagai istrinya. Alasannya, dia adalah gadis yang berakal, ridla dengan kenyataan, merasa bahagia dengan pemberian yang diterimanya.
Gadis II, adalah orang yang tidak ridla/puas dengan apa yang dimilikinya.
Gadis III, cenderung tidak hidup dalam alam kenyataan sehingga tidak layak memikul beban kehidupan suami istri. Apakah hidup ini cukup makan cinta?
Seorang filosof ingin menikah. Kawan-kawannya mengajukan 3 gadis yang semuanya berparas cantik. Filofof itu menguji akhlak ketiga gadis itu dengan memberikan beberapa butir permata kepada mereka.
Gadis I menerima pemberian itu dengan perasaan gembira & mengucapkan terima kasih “ Selama hidup saya belum pernah melihat permata seindah ini” katanya.
Gadis II berkata:” Kalau permata ini ditambah dengan emas, pasti akan menjadi kalung yamg indah”
Gadis III berkata: “ Ambillah kembali permata ini dan simpanlah. Bagiku, cintamu sudah cukup”
Akhirnya filosof itu memilih gadis I sebagai istrinya. Alasannya, dia adalah gadis yang berakal, ridla dengan kenyataan, merasa bahagia dengan pemberian yang diterimanya.
Gadis II, adalah orang yang tidak ridla/puas dengan apa yang dimilikinya.
Gadis III, cenderung tidak hidup dalam alam kenyataan sehingga tidak layak memikul beban kehidupan suami istri. Apakah hidup ini cukup makan cinta?
Tips 1.
TIPS PANJANG UMUR TANPA PIKUN
Berdasarkan hasil diskusi para ulama, dokter, dan cendekiawan: tentang usaha untuk mendapatkan umur panjang tanpa pikun adalah sebagai berikut:
1. Jagalah senantiasa kebersihan hati dari segala kekotoran sikap dan perbuatan kita,
“Sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal darah, bila baik darah tersebut maka baiklah seluruh amalnya” (alhadits)
Maka jagalah hati hari semua penyakit hati, syirik, munafik, kianat, kufur, takabur, dan lain sebagainya.
2. Menjaga pola hidup Sehat dengan :
- Makan dan minum dengan yang halal thoiyibanng usahakan yang natural lebih baik bukan buatan.
-MINUMLAH DENGAN MINERAL, BUKAN MINUMAN BUATAN. Makan dan minum disamping yang halal, baik, juga tidak melampaui batas.
• HIDUPLAH DENGAN UDARA YANG BERSIH.
• CUKUP SINAR MATAHARI.
• CUKUP ISTIRAHAT : TIDUR.
• BANYAK BERJALAN KAKI.
• KEBIASAAN YANG BERSIH.
3. Hindari penyebab Depresi, Stress atau hal lain yang menyebabkan putus asa atau prustasi
4. Warnai hari harimu dengan Tilawah Al- Quran “ Hiasilah rumahmu dengan Al-Quran “
5. Hidupkan selalu Qiyamulall atau sholat malam
6. Perbanyak Silaturahmi
7. Budayakan senantiasa Sedekah dalam setiap kesempatan baik lapang maupun sempit
8. Sisihkan waktu untuk Olah Raga
Asyari 23/12 08
Berdasarkan hasil diskusi para ulama, dokter, dan cendekiawan: tentang usaha untuk mendapatkan umur panjang tanpa pikun adalah sebagai berikut:
1. Jagalah senantiasa kebersihan hati dari segala kekotoran sikap dan perbuatan kita,
“Sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal darah, bila baik darah tersebut maka baiklah seluruh amalnya” (alhadits)
Maka jagalah hati hari semua penyakit hati, syirik, munafik, kianat, kufur, takabur, dan lain sebagainya.
2. Menjaga pola hidup Sehat dengan :
- Makan dan minum dengan yang halal thoiyibanng usahakan yang natural lebih baik bukan buatan.
-MINUMLAH DENGAN MINERAL, BUKAN MINUMAN BUATAN. Makan dan minum disamping yang halal, baik, juga tidak melampaui batas.
• HIDUPLAH DENGAN UDARA YANG BERSIH.
• CUKUP SINAR MATAHARI.
• CUKUP ISTIRAHAT : TIDUR.
• BANYAK BERJALAN KAKI.
• KEBIASAAN YANG BERSIH.
3. Hindari penyebab Depresi, Stress atau hal lain yang menyebabkan putus asa atau prustasi
4. Warnai hari harimu dengan Tilawah Al- Quran “ Hiasilah rumahmu dengan Al-Quran “
5. Hidupkan selalu Qiyamulall atau sholat malam
6. Perbanyak Silaturahmi
7. Budayakan senantiasa Sedekah dalam setiap kesempatan baik lapang maupun sempit
8. Sisihkan waktu untuk Olah Raga
Asyari 23/12 08
mari kita renungkan
KAU INI BAGAIMANA? ATAWA
AKU HARUS BAGAIMANA
Karya KH Musthofa Bisri (Gusmus)
Kau ini bagaimana? Kau bilang, Aku ini merdeka, Kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berfikir, aku berfikir, kau tuduh aku kafir. Aku harus bagaimana
Kau bilang ,” bergeraklah” ,aku bergerak , kau curigai
Kau bilang “jangan banyak tingkah”, aku diam saja, kau waspadai. Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip,aku memegang prinsip. kau tuduh aku kaku.
Kau suruh aku toleran, aku toleran , kau bilang aku plin plan
Aku kau suruh maju , aku mau maju, kau slingkung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja, kau ganggu aku. Kau ini bagaimana
Kau suruh aku bertaqwa, khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tidak jelas arahnya
Aku kau suruh menghormati hukum , kebijaksanaanmu menyepelekannya.
Kau suruh aku disiplin, kau mencontohkan yang lain. Kau ini bagaimana?
Kau bilang “Tuhan sangat dekat”, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat.
Kua bilang, kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai. Aku harus bagaimana?
Kau Suruh aku Membangun, aku membangun, kau merusakkannya
Kau suruh aku Menabung . aku menabung, Kau menghabiskannya. Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku Menggarap sawah, sawahku kau tamani rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah,aku punya rumah, kau meratakakannya dengan tanah. Aku harus bagaimana ?
Kau larang aku berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Kau suruh aku bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lamu bissawaab . Kau suruh aku Jujur, aku jujur , kau tipu aku
Kau suruh aku Sabar, aku sabar, kau injak tengkukku. Aku ini harus bagaimana?
Aku Kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih, kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang, kau selalu memikirkanku, aku sapa saja, kau merasa terganggu. Kau ini bagaimana?
Kau bilang “bicaralah” , aku bicara, kau bilang, aku ciriwis
Kau bilang , “jangan banyak bicara”, aku bungkam, kau tuduh aku apatis. Aku ini harus bagaimana?.
Kau bilang,”kritiklah” ,aku kritik, kau marah
Kau bilang “carikan alternatifnya”, aku kasih alternatif, kau bilang jangan mendekte saja.Aku bilang “terserah kau”, kau tidak mau.
Aku bilang “terserah kita”, kau tak suka
Aku bilang “terserah aku”, kau memakiku. Kau ini bag aimana? Atau Aku harus bagaimana.(1987)
•
AKU HARUS BAGAIMANA
Karya KH Musthofa Bisri (Gusmus)
Kau ini bagaimana? Kau bilang, Aku ini merdeka, Kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berfikir, aku berfikir, kau tuduh aku kafir. Aku harus bagaimana
Kau bilang ,” bergeraklah” ,aku bergerak , kau curigai
Kau bilang “jangan banyak tingkah”, aku diam saja, kau waspadai. Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip,aku memegang prinsip. kau tuduh aku kaku.
Kau suruh aku toleran, aku toleran , kau bilang aku plin plan
Aku kau suruh maju , aku mau maju, kau slingkung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja, kau ganggu aku. Kau ini bagaimana
Kau suruh aku bertaqwa, khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tidak jelas arahnya
Aku kau suruh menghormati hukum , kebijaksanaanmu menyepelekannya.
Kau suruh aku disiplin, kau mencontohkan yang lain. Kau ini bagaimana?
Kau bilang “Tuhan sangat dekat”, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat.
Kua bilang, kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai. Aku harus bagaimana?
Kau Suruh aku Membangun, aku membangun, kau merusakkannya
Kau suruh aku Menabung . aku menabung, Kau menghabiskannya. Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku Menggarap sawah, sawahku kau tamani rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah,aku punya rumah, kau meratakakannya dengan tanah. Aku harus bagaimana ?
Kau larang aku berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Kau suruh aku bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lamu bissawaab . Kau suruh aku Jujur, aku jujur , kau tipu aku
Kau suruh aku Sabar, aku sabar, kau injak tengkukku. Aku ini harus bagaimana?
Aku Kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih, kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang, kau selalu memikirkanku, aku sapa saja, kau merasa terganggu. Kau ini bagaimana?
Kau bilang “bicaralah” , aku bicara, kau bilang, aku ciriwis
Kau bilang , “jangan banyak bicara”, aku bungkam, kau tuduh aku apatis. Aku ini harus bagaimana?.
Kau bilang,”kritiklah” ,aku kritik, kau marah
Kau bilang “carikan alternatifnya”, aku kasih alternatif, kau bilang jangan mendekte saja.Aku bilang “terserah kau”, kau tidak mau.
Aku bilang “terserah kita”, kau tak suka
Aku bilang “terserah aku”, kau memakiku. Kau ini bag aimana? Atau Aku harus bagaimana.(1987)
•
Selasa, 16 Desember 2008
Seri Perencanaan Keuangan 2
Perencanaan Keuangan Bagi Keluarga Penting
Mengapa Perencanaan Keuangan itu di perlukan ? jawaban sederhana adalah karena semua orang mempunyai Impian masa depan seperti dalam gambar berikut ini :
Secara fitrah terganbar diatas bahwa semua manusia menginginkan terpenuhinya kebutuhan;
1. Pendidikan anak yang mandiri hingga Sarjana bahkan hingga Pasca Sarjana
2. Rumah yang luas sebagai tempat berkumpul dan berlindung bagi keluarga
3. Kendaraan yang bagus sebagai sarana transportasi
4. Uang yang cukup dalam pemenuhan setiap kebutuhan tercapai
5. Dan Menunaikan Ibadah Haji sebagai penyempurna Ibadah Rukun Islam.
6. Serta Menikmati hari Pensiun tiba dengan bahagia dan tercukupi kebutuhan.
Semua hal terbut tidaklah berlebihan karena juga ada Dalam al-qur’an :
14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[*] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Ruang Lingkup Perencanaan Keuangan
Secara bertahap mudah mudahan bisa kita bahas ruang lingkup Perencanaan Keuangan bagi Keluarga Muslim;
Diantara Ruang Lingkup pembahasan adalah sebagi berikut :
1. Pengaturan aset komsumtif dalam pemenuhan kebutuhan jangka pendek.
2. Perencanaan kebutuhan Pendidikan
3. Perencanaan Keuangan masa Pensiun
4. Mempersiapkan Dana Cadangan Darurat
5. Perencanaan Investasi
6. Memilih Asuransi Sebagai Proteksi
7. Perencanaan Warisan
8. Pengelolaan Zakat
9. Pembayaran Pajak
Dari daftar ruang lingkup perencanaan keuangan tersebut kita akan bahas satu persatu secara berkesinambungan, tentunya di sesuaikan dengan kebutuhan mana yang harus menjadi skala prioritas pembahasan.
Wallhu a’lam Bishowab
Abdillah Asyari Suparmin
Mengapa Perencanaan Keuangan itu di perlukan ? jawaban sederhana adalah karena semua orang mempunyai Impian masa depan seperti dalam gambar berikut ini :
Secara fitrah terganbar diatas bahwa semua manusia menginginkan terpenuhinya kebutuhan;
1. Pendidikan anak yang mandiri hingga Sarjana bahkan hingga Pasca Sarjana
2. Rumah yang luas sebagai tempat berkumpul dan berlindung bagi keluarga
3. Kendaraan yang bagus sebagai sarana transportasi
4. Uang yang cukup dalam pemenuhan setiap kebutuhan tercapai
5. Dan Menunaikan Ibadah Haji sebagai penyempurna Ibadah Rukun Islam.
6. Serta Menikmati hari Pensiun tiba dengan bahagia dan tercukupi kebutuhan.
Semua hal terbut tidaklah berlebihan karena juga ada Dalam al-qur’an :
14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[*] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Ruang Lingkup Perencanaan Keuangan
Secara bertahap mudah mudahan bisa kita bahas ruang lingkup Perencanaan Keuangan bagi Keluarga Muslim;
Diantara Ruang Lingkup pembahasan adalah sebagi berikut :
1. Pengaturan aset komsumtif dalam pemenuhan kebutuhan jangka pendek.
2. Perencanaan kebutuhan Pendidikan
3. Perencanaan Keuangan masa Pensiun
4. Mempersiapkan Dana Cadangan Darurat
5. Perencanaan Investasi
6. Memilih Asuransi Sebagai Proteksi
7. Perencanaan Warisan
8. Pengelolaan Zakat
9. Pembayaran Pajak
Dari daftar ruang lingkup perencanaan keuangan tersebut kita akan bahas satu persatu secara berkesinambungan, tentunya di sesuaikan dengan kebutuhan mana yang harus menjadi skala prioritas pembahasan.
Wallhu a’lam Bishowab
Abdillah Asyari Suparmin
Senin, 15 Desember 2008
Sebuah Renungan
Jadilah Anda Sebagai Muslim/Muslimah
Jadilah Anda Muslim dalam Badanmu !
Jadilah Anda Muslim dalam akhlaqmu !
Jadilah Anda Muslim dalam Pemikiranmu !
Jadilah Anda Muslim dalam kasabmu !
Jadilah Anda Muslim dalam akidahmu !
Jadilah Anda Muslim dalam ibadahmu !
Jadilah Anda Muslim dalam dirimu !
Jadilah Anda Muslim dalam waktumu !
Jadilah Anda Muslim dalam semua urusanmu !
Jadilah Anda Muslim dalam bersama yang lain !
Jadilah Anda Muslim dalam Badanmu !
Jadilah Anda Muslim dalam akhlaqmu !
Jadilah Anda Muslim dalam Pemikiranmu !
Jadilah Anda Muslim dalam kasabmu !
Jadilah Anda Muslim dalam akidahmu !
Jadilah Anda Muslim dalam ibadahmu !
Jadilah Anda Muslim dalam dirimu !
Jadilah Anda Muslim dalam waktumu !
Jadilah Anda Muslim dalam semua urusanmu !
Jadilah Anda Muslim dalam bersama yang lain !
Langganan:
Komentar (Atom)