Siapa di antara Kita yang Paling Mengenalnya-Nya?
H
Atim Al ahsam rahimahullah. Laki-laki yang banyak keturunannya, namun sedikit kekayaannya. Kelebihannya, ia seorang shalih yang sangat tinggi ketawakalannya kepada Allah, dan sungguh- sungguh dalam beribadah. Keshalihan Hatim, tertuang dalam salah satu ucapannya.”Pernah suatu hari saya ditanya,”Apakah engkau ingin sesuatu ?”Aku jawab, “Aku ingin selalu sehat dari pagi hingga malam hari”. Aku ditanya lagi, “Bukankah engkau sehat selama seharian?” Aku jawab,”sehat menurutku adalah tidak menjalankan dosa dari pagi hingga malam”.
Sedang tentang ketawakalannya, ia pernah mengatakan, “Tiada waktu pagi datang melainkan setan mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggoda, “Apa yang akan engkau makan ?” Apa yang akan engkau pakai ?di manakah engkau akan tinggal.” Saya tidak ingin hanyut dalam jebakan pertanyaan itu, maka saya cukup menjawabnya,”Saya akan makan kematian, mengenakan kain kafan, dan tinggal di liang lahat.
Saudaraku,
Suatu malam,Hatim berbincang bincang dengan para sahabatnya. Saat itu,pembicaraan mengarah hingga membahas masalah naik haji ke Baitullah. Kerinduan bisa berkunjung ke Masjidil Haram pun menyusup dalam di hati Hatim Al Asham. Pulang ke rumah, ia duduk di hadapan anak-anaknya dan berbicara kepada mereka.”Apakah kalian izinkan ayah kalian pergi ke Baitullah tahun ini untuk menunaikan haji, ayah akan mendo’akan kalian di sana...”Istri dan anak-anaknya terkejut. Dalam waktu yang bersamaan mereka mengatakan,”Ayah dalam kondisi tidak punya apa-apa,dan kami juga dalam keadaan miskin. Bagaimana mungkin ayah ingin berangkat haji dan meninggalkan kami dalam kondisi seperti ini?”
Suasana menjadi hening. Hatim Al Asham sudah menduga keterkujutan dan jawaban seperti itu. Tapi tiba-tiba seorang anak perempuannya yang masih kecil mengatakan lain. “Kalian hanya diminta mengizinkan ayah untuk pergi haji. Bukankah itu tidak memberatkan kalian? Biarkanlah ayah naik haji ke Baitullah, karena ia hanya penyalur rizki dan bukan pembeeri rizki.” Perkataan anak perempuan kecil Hatim segera merubah pandangan keluarga Hatim yang akhirnya mereka sepakat dan mengatakan bahwa apa yang dikatakan adik kecil itu benar adanya. “Pergilah ayah ke Baitullah tahun ini,” ujar salah seorang putra Hatim.
Saudaraku,
Sejak itulah Hatim Al Asham melakukan ragam persiapan untuk menyambut musim haji tiba. Beberapa bulan sebelum datang musim haji, Hatim Al Asham berangkat menempuh perjalanan menuju Baitullah. Para tetangga berdatangan menemui keluarga Hatim dan mempersalahkan keluarga Hatim yang membiarkan Hatim pergi tanpa meninggalkan makanan untuk keluarganya. Begitu ramainya pembicaraan miring terhadap sikap Hatim,hingga keluarganya turut terbawa dan menyalahkan puteri kecil Hatim yang dahulu meminta agar sang ayah diizinkan pergi haji. “Seaindainya waktu itu engkau tidak berbicara, pasti ia akan tetap tinggal di rumah,” ujar salah seorang mereka. Mendengar perkataan itu,puteri Hatim mengangkat tangannya ke langit dan mengatakan,”Allahumma,Ya Allah,Ya Rabb ku, aku sampaikan kepada kaumku tentang Kemurahan-Mu,dan bahwa sesungguhnya Engkau takkan membiarkan mereka dalam kondisi seperti ini. Ya Allah,jangan Engkau kecewakan mereka, dan jangan Engkau permalukan aku di hadapan mereka.”
Tak lama setelah itu, rumah Hatim Al Asham didatangi oleh seorang walikota bersama rombongannya yang datang kehausan. Istri Hatim mengangkat tangannya ke langit dan mengatakan, ”Allahumma,Ya Allah,Ya Rabb ku, Maha suci Engkau. Tadi malam kami tidur dalam kondisi lapar. Tapi hari ini, seorang penguasa datang ke rumah untuk meminta minum.” Sang walikota dijelaskan, bahwa itu adalah rumah milik seorang shalih bernama Hatim Al Asham. Nama Hatim Al Asham,ternyata sudah pernah sampai ke telinga walikota. Ia lalu mengatakan, tidak baik bila dirinya dan rombongan yang telah membebani keluarga Hatim tapi tidak bisa memberi balasan kepada mereka.
Singkat kisah, salaha satu rombongan walikota memberi uang banyak kepada keluarga Hatim. Melihat uang itu, puteri Hatim menangis keras hingga membuat rombongan walikota terkejut dan berusaha menenangkannya. Tapi puteri Hatim itu mengatakan pada ibunya,”Ibu, tangisku karena memikirkan bagaimana tadi malam kita tidur dalam kondisi lapar. Sementara sekadar ada seorang makhluk melihat kita, lalu Allah swt menjadikan kita kaya. Sungguh Allah Yang Maha Murah Yang Maha Pencipta,Dia Yang Memperhatikan kita,Dia tak membiarkan kita sekejap matapun. Ya Allah, pandanglah ayah kami yang sedang pergike Baitullah. Peliharalah dia dengan sebaik-baiknya.”
Hatim dalam perjalanannya ke Baitullah bertemu dengan kafilah yang sedang mencari orang yang bisa mengobati salah satu pimpinan mereka. Dengan do’a Hatim, orang itu sembuh dan memberi makan dan minum Hatim. Di malam harinya, Hatim bermimpi ada suara yang berkata padanya,”Wahai Hatim,barangsiapa yang baik hubungannya dengan Tuhannya, maka Tuhannya akan memperbaiki hubungan-Nya dengan orang itu.”
Saat pulang dari menunaikan ibadah haji. Hatim mendengar kisah yang terjadi dalam keluarganya. Ia menangis. Ketika itu, meluncurlah ungkapan dari mulutnya,”Sesungguhnya Allah tidak melihat pada tua mudanya kalian. Tapi Allah memandang siapa diantara kalian yang paling mengenal-Nya. Maka, kenalilah Allah dan bertawakkallah kepada-Nya. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.”
Saudaraku,
Ingatlah perkataan Ibnul Jauzi dalan Shaidu al Khathir, “Ketahuilah bahwa jalan menuju Allah swt tidak ditempuh dengan langkah kaki,melainkan di tempuh dengan hati.” Mari kita resapi lagi jawaban Hatim Al Asham yang wafat pada 237 H. Ketika ditanya, “Atas dasar apa engkau begitu tawakal kepada Allah?” lelaki shalih itu menjawab,”Atas empat hal : aku yakin rezekiku tidak akan dimakan orang. Karena itu,aku tenang. Aku yakin amalku tidak akan dekerjakan orang. Karena itu, aku sibuk beramal. Aku yakin kematian akan datang detang tiba-tiba. Karena itu aku selalu siap menghadapinya. Dan aku yakin bahwa aku tidak mungkin lepas dari pengawasan Allah. Karena itu, aku malu dari-Nya.”
Sumber Majalah Tarbawi
Senin, 29 Desember 2008
Kamis, 25 Desember 2008
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1430 H
HIJRAH MENUJU KEMENANGAN
Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi ada dua moment penting dalam perjalanan waktu, yakni perubahan tahun, secara kebetulan hanya beberapa hari jarak antara tahun baru hijriyah dengan tahun baru masehi. Respond dan tanggapan masyarakat berbeda beda, ada yang telahmempersipkan jauh sebelumnya, ada yang biasa biasa saja, ada yang menyambut dan merayakan dengan berbagai pesta pora. Tengoklah di Mall mall besar, hotel berbintang, tempat hiburan, serta villa di sepanjang puncak dari Bogor hingga Cianjur sudah penuh full boking sejak pertengahan bulan desember.
Suatu renungan yang patut di sayangkan adalah betapa tidak berimbangnya ucapan selamat, dan persiapan antara tahun baru Hijriyah dengan tahun baru Masehi, bahkan masih banyak yang tidak tahu kalau ada tahun baru hijrah. Padahal negri ini mayoritas Muslim, apa yang menjadi penyebabnya ?
Tahun baru Masehi tidak lebih dari perubahan tahun dari 2008 ke tahun 2009, makna subtansi dari perubahan hamper tidak ada, sementara itu tahun baru hijriyah memiliki makna hakekah yang patut di renungkan.
Perubahan adalah sebuah fitrah, yang tidak bisa di hindari, sebagai mana pepatah “ walaupun kita sudah pada rel yang benar, kalau hanya duduk duduk saja, maka akan terbabrak oleh kereta yang lewat”. Dengan demikian perubahan harus di sambut dengan niat menuju kesempurnaan melalui perbaikan, perubahan yang tidak membawa peningkatan kebaikan, tidaklah membawa manfaat kecuali penuaan belaka.
Makna Hijrah
Secara Harfiah hijrah adalah pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, yang di maksudkan di sini adalah pindahnya Rasululloh dari Makkah ke Madinah, ketika dakwah telah mencapai klimak dengan berbagai tantangan yang di hadapi oleh rasululloh dan para Sahabat, maka perintah hijrah memberikan pencerahan baru dalam penyebaran dakwah Islam.
Secara Singkat hikmah yang bisa di ambil dari Hijrah Rasulullah adalah sebagai berikut :
1. Sebagai langkah awal di mulainya Syariah Islam sescara utuh, bial di Makkah Dakwah Rasulullah baru meliputi penguatan Aqidah, di Madinah di mulainya penegakan syariah dalam segala aspek kehidupan, dari ibadah muamalah, hingga siasah dengan piagam Madinah .
2. Hijrah memberikan teladan agar manusia tidak berhenti berjuang dari membuat perencanaan hingga ke pelaksanaan dan evaluasi, Adalah bukan yang sulit apabila Rasulloh bermohon kepada Allah agar proses Hijrah semudah seperti peristiwa Isra dan Mi’rat, tetapi melalui perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan dan di perlukan strategi.
3. Hijrah sebagai bukti terciptanya Ukhuwah yang hakiki, betapa pengorbangan kaum Muhajirin yang telah meninggalkan negrinya dan hartanya di sambut dengan keikhlasan kaum Anshor dengan memberikan tempat tinggal harta bahkan ada yang menawarkan Isri yang lebih dari satu untuk di cerai dan stelah selesai idah akan di nikahkan.
Mengenahi makna Hijrah Makaniyah ini di sebutkan dalam Alquran ‘
“Sesungguhnya orang orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta, dan jiwanya pada jalan Allah (kaum Muhajirin) dan orang orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kaum anshor) merekan itu satu sama lain lindung-melindungi ( Al-anfal : 72)
Meskipun hijrah secara Makaniyah sudah tidak ada lagi sebagaimana hadits “ Tidak ada hijrah setelah penakhlukan kota mekkah , akan tetapi jihad dan niat, dan jika kalian di minta untuk pergi berjihad maka pergilah “. Namun masih ada hijrah maknawiyah yakni hijrah dalam bentuk perubahan nilai dari tidak menuju lebih baik.
Ada beberapa hal yang bisa di kategorikan hijrah maknawiyah di antaranya sebagai berikut ;
1. Meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat dan mengisi dengan amal kebaikan
Rasulululloh bersabda “ Muslim adalah seseorang yang menghindari menyakiti muslim yang lain dengan lidah tangannnya, dabn Muhajir (orang orang yang berhijrah) adalah orang orang yang meninggalkan semua apa apa yang Allah telah larang “ HR: Bukhori)
2. Menjaga pergaulan dari lingkungan yang Rusak,
Makna hijrah juga bisa dengan menghindari dari pergaulan yang yang merusak dan tidak mendekatkan diri dari mengingat Allah, dan harus memilih lingkungan yang lebih baik “ Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka (orang kafir) ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik ‘ (Al-Muzzamil : 10)
3. Beribadah kepada Allah pada saat sulit dan penuh fitnah
“ Beribadah pada saat masaharj (terkena fitnah/kondidi sulit) adalah seperti hijrah kepadaku” HR: Muslim).
4. Mengembangkan Prestasi dengan Ilmu pengetahuan dalam rangka membangun peradaban sesuai dengan Islam.
“ Orang Orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan itulah orang orang yang mendapat kemenangan. ‘Attaubah : 24)
Senantiasa ikhtiar dengan semua kemampuan agar menjadi lebih baik adalah hakekat dari hijrah saat ini. Dengan Sebuah tekat “ Hari Ini harus lebih baik dari Kemarin”
Untuk itu marilah moment tahun baru Hijriyah ini di jadikan tonggak langkah awal memulai kehidupan menuju yang di ridhoi Allah SWT.
“Selamat Tahun Baru Hijriyah “
Asyari 26/12-08
Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi ada dua moment penting dalam perjalanan waktu, yakni perubahan tahun, secara kebetulan hanya beberapa hari jarak antara tahun baru hijriyah dengan tahun baru masehi. Respond dan tanggapan masyarakat berbeda beda, ada yang telahmempersipkan jauh sebelumnya, ada yang biasa biasa saja, ada yang menyambut dan merayakan dengan berbagai pesta pora. Tengoklah di Mall mall besar, hotel berbintang, tempat hiburan, serta villa di sepanjang puncak dari Bogor hingga Cianjur sudah penuh full boking sejak pertengahan bulan desember.
Suatu renungan yang patut di sayangkan adalah betapa tidak berimbangnya ucapan selamat, dan persiapan antara tahun baru Hijriyah dengan tahun baru Masehi, bahkan masih banyak yang tidak tahu kalau ada tahun baru hijrah. Padahal negri ini mayoritas Muslim, apa yang menjadi penyebabnya ?
Tahun baru Masehi tidak lebih dari perubahan tahun dari 2008 ke tahun 2009, makna subtansi dari perubahan hamper tidak ada, sementara itu tahun baru hijriyah memiliki makna hakekah yang patut di renungkan.
Perubahan adalah sebuah fitrah, yang tidak bisa di hindari, sebagai mana pepatah “ walaupun kita sudah pada rel yang benar, kalau hanya duduk duduk saja, maka akan terbabrak oleh kereta yang lewat”. Dengan demikian perubahan harus di sambut dengan niat menuju kesempurnaan melalui perbaikan, perubahan yang tidak membawa peningkatan kebaikan, tidaklah membawa manfaat kecuali penuaan belaka.
Makna Hijrah
Secara Harfiah hijrah adalah pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, yang di maksudkan di sini adalah pindahnya Rasululloh dari Makkah ke Madinah, ketika dakwah telah mencapai klimak dengan berbagai tantangan yang di hadapi oleh rasululloh dan para Sahabat, maka perintah hijrah memberikan pencerahan baru dalam penyebaran dakwah Islam.
Secara Singkat hikmah yang bisa di ambil dari Hijrah Rasulullah adalah sebagai berikut :
1. Sebagai langkah awal di mulainya Syariah Islam sescara utuh, bial di Makkah Dakwah Rasulullah baru meliputi penguatan Aqidah, di Madinah di mulainya penegakan syariah dalam segala aspek kehidupan, dari ibadah muamalah, hingga siasah dengan piagam Madinah .
2. Hijrah memberikan teladan agar manusia tidak berhenti berjuang dari membuat perencanaan hingga ke pelaksanaan dan evaluasi, Adalah bukan yang sulit apabila Rasulloh bermohon kepada Allah agar proses Hijrah semudah seperti peristiwa Isra dan Mi’rat, tetapi melalui perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan dan di perlukan strategi.
3. Hijrah sebagai bukti terciptanya Ukhuwah yang hakiki, betapa pengorbangan kaum Muhajirin yang telah meninggalkan negrinya dan hartanya di sambut dengan keikhlasan kaum Anshor dengan memberikan tempat tinggal harta bahkan ada yang menawarkan Isri yang lebih dari satu untuk di cerai dan stelah selesai idah akan di nikahkan.
Mengenahi makna Hijrah Makaniyah ini di sebutkan dalam Alquran ‘
“Sesungguhnya orang orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta, dan jiwanya pada jalan Allah (kaum Muhajirin) dan orang orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kaum anshor) merekan itu satu sama lain lindung-melindungi ( Al-anfal : 72)
Meskipun hijrah secara Makaniyah sudah tidak ada lagi sebagaimana hadits “ Tidak ada hijrah setelah penakhlukan kota mekkah , akan tetapi jihad dan niat, dan jika kalian di minta untuk pergi berjihad maka pergilah “. Namun masih ada hijrah maknawiyah yakni hijrah dalam bentuk perubahan nilai dari tidak menuju lebih baik.
Ada beberapa hal yang bisa di kategorikan hijrah maknawiyah di antaranya sebagai berikut ;
1. Meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat dan mengisi dengan amal kebaikan
Rasulululloh bersabda “ Muslim adalah seseorang yang menghindari menyakiti muslim yang lain dengan lidah tangannnya, dabn Muhajir (orang orang yang berhijrah) adalah orang orang yang meninggalkan semua apa apa yang Allah telah larang “ HR: Bukhori)
2. Menjaga pergaulan dari lingkungan yang Rusak,
Makna hijrah juga bisa dengan menghindari dari pergaulan yang yang merusak dan tidak mendekatkan diri dari mengingat Allah, dan harus memilih lingkungan yang lebih baik “ Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka (orang kafir) ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik ‘ (Al-Muzzamil : 10)
3. Beribadah kepada Allah pada saat sulit dan penuh fitnah
“ Beribadah pada saat masaharj (terkena fitnah/kondidi sulit) adalah seperti hijrah kepadaku” HR: Muslim).
4. Mengembangkan Prestasi dengan Ilmu pengetahuan dalam rangka membangun peradaban sesuai dengan Islam.
“ Orang Orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan itulah orang orang yang mendapat kemenangan. ‘Attaubah : 24)
Senantiasa ikhtiar dengan semua kemampuan agar menjadi lebih baik adalah hakekat dari hijrah saat ini. Dengan Sebuah tekat “ Hari Ini harus lebih baik dari Kemarin”
Untuk itu marilah moment tahun baru Hijriyah ini di jadikan tonggak langkah awal memulai kehidupan menuju yang di ridhoi Allah SWT.
“Selamat Tahun Baru Hijriyah “
Asyari 26/12-08
Rabu, 24 Desember 2008
hikmah
MEMILIH CALON ISTRI
Seorang filosof ingin menikah. Kawan-kawannya mengajukan 3 gadis yang semuanya berparas cantik. Filofof itu menguji akhlak ketiga gadis itu dengan memberikan beberapa butir permata kepada mereka.
Gadis I menerima pemberian itu dengan perasaan gembira & mengucapkan terima kasih “ Selama hidup saya belum pernah melihat permata seindah ini” katanya.
Gadis II berkata:” Kalau permata ini ditambah dengan emas, pasti akan menjadi kalung yamg indah”
Gadis III berkata: “ Ambillah kembali permata ini dan simpanlah. Bagiku, cintamu sudah cukup”
Akhirnya filosof itu memilih gadis I sebagai istrinya. Alasannya, dia adalah gadis yang berakal, ridla dengan kenyataan, merasa bahagia dengan pemberian yang diterimanya.
Gadis II, adalah orang yang tidak ridla/puas dengan apa yang dimilikinya.
Gadis III, cenderung tidak hidup dalam alam kenyataan sehingga tidak layak memikul beban kehidupan suami istri. Apakah hidup ini cukup makan cinta?
Seorang filosof ingin menikah. Kawan-kawannya mengajukan 3 gadis yang semuanya berparas cantik. Filofof itu menguji akhlak ketiga gadis itu dengan memberikan beberapa butir permata kepada mereka.
Gadis I menerima pemberian itu dengan perasaan gembira & mengucapkan terima kasih “ Selama hidup saya belum pernah melihat permata seindah ini” katanya.
Gadis II berkata:” Kalau permata ini ditambah dengan emas, pasti akan menjadi kalung yamg indah”
Gadis III berkata: “ Ambillah kembali permata ini dan simpanlah. Bagiku, cintamu sudah cukup”
Akhirnya filosof itu memilih gadis I sebagai istrinya. Alasannya, dia adalah gadis yang berakal, ridla dengan kenyataan, merasa bahagia dengan pemberian yang diterimanya.
Gadis II, adalah orang yang tidak ridla/puas dengan apa yang dimilikinya.
Gadis III, cenderung tidak hidup dalam alam kenyataan sehingga tidak layak memikul beban kehidupan suami istri. Apakah hidup ini cukup makan cinta?
Tips 1.
TIPS PANJANG UMUR TANPA PIKUN
Berdasarkan hasil diskusi para ulama, dokter, dan cendekiawan: tentang usaha untuk mendapatkan umur panjang tanpa pikun adalah sebagai berikut:
1. Jagalah senantiasa kebersihan hati dari segala kekotoran sikap dan perbuatan kita,
“Sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal darah, bila baik darah tersebut maka baiklah seluruh amalnya” (alhadits)
Maka jagalah hati hari semua penyakit hati, syirik, munafik, kianat, kufur, takabur, dan lain sebagainya.
2. Menjaga pola hidup Sehat dengan :
- Makan dan minum dengan yang halal thoiyibanng usahakan yang natural lebih baik bukan buatan.
-MINUMLAH DENGAN MINERAL, BUKAN MINUMAN BUATAN. Makan dan minum disamping yang halal, baik, juga tidak melampaui batas.
• HIDUPLAH DENGAN UDARA YANG BERSIH.
• CUKUP SINAR MATAHARI.
• CUKUP ISTIRAHAT : TIDUR.
• BANYAK BERJALAN KAKI.
• KEBIASAAN YANG BERSIH.
3. Hindari penyebab Depresi, Stress atau hal lain yang menyebabkan putus asa atau prustasi
4. Warnai hari harimu dengan Tilawah Al- Quran “ Hiasilah rumahmu dengan Al-Quran “
5. Hidupkan selalu Qiyamulall atau sholat malam
6. Perbanyak Silaturahmi
7. Budayakan senantiasa Sedekah dalam setiap kesempatan baik lapang maupun sempit
8. Sisihkan waktu untuk Olah Raga
Asyari 23/12 08
Berdasarkan hasil diskusi para ulama, dokter, dan cendekiawan: tentang usaha untuk mendapatkan umur panjang tanpa pikun adalah sebagai berikut:
1. Jagalah senantiasa kebersihan hati dari segala kekotoran sikap dan perbuatan kita,
“Sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal darah, bila baik darah tersebut maka baiklah seluruh amalnya” (alhadits)
Maka jagalah hati hari semua penyakit hati, syirik, munafik, kianat, kufur, takabur, dan lain sebagainya.
2. Menjaga pola hidup Sehat dengan :
- Makan dan minum dengan yang halal thoiyibanng usahakan yang natural lebih baik bukan buatan.
-MINUMLAH DENGAN MINERAL, BUKAN MINUMAN BUATAN. Makan dan minum disamping yang halal, baik, juga tidak melampaui batas.
• HIDUPLAH DENGAN UDARA YANG BERSIH.
• CUKUP SINAR MATAHARI.
• CUKUP ISTIRAHAT : TIDUR.
• BANYAK BERJALAN KAKI.
• KEBIASAAN YANG BERSIH.
3. Hindari penyebab Depresi, Stress atau hal lain yang menyebabkan putus asa atau prustasi
4. Warnai hari harimu dengan Tilawah Al- Quran “ Hiasilah rumahmu dengan Al-Quran “
5. Hidupkan selalu Qiyamulall atau sholat malam
6. Perbanyak Silaturahmi
7. Budayakan senantiasa Sedekah dalam setiap kesempatan baik lapang maupun sempit
8. Sisihkan waktu untuk Olah Raga
Asyari 23/12 08
mari kita renungkan
KAU INI BAGAIMANA? ATAWA
AKU HARUS BAGAIMANA
Karya KH Musthofa Bisri (Gusmus)
Kau ini bagaimana? Kau bilang, Aku ini merdeka, Kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berfikir, aku berfikir, kau tuduh aku kafir. Aku harus bagaimana
Kau bilang ,” bergeraklah” ,aku bergerak , kau curigai
Kau bilang “jangan banyak tingkah”, aku diam saja, kau waspadai. Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip,aku memegang prinsip. kau tuduh aku kaku.
Kau suruh aku toleran, aku toleran , kau bilang aku plin plan
Aku kau suruh maju , aku mau maju, kau slingkung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja, kau ganggu aku. Kau ini bagaimana
Kau suruh aku bertaqwa, khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tidak jelas arahnya
Aku kau suruh menghormati hukum , kebijaksanaanmu menyepelekannya.
Kau suruh aku disiplin, kau mencontohkan yang lain. Kau ini bagaimana?
Kau bilang “Tuhan sangat dekat”, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat.
Kua bilang, kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai. Aku harus bagaimana?
Kau Suruh aku Membangun, aku membangun, kau merusakkannya
Kau suruh aku Menabung . aku menabung, Kau menghabiskannya. Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku Menggarap sawah, sawahku kau tamani rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah,aku punya rumah, kau meratakakannya dengan tanah. Aku harus bagaimana ?
Kau larang aku berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Kau suruh aku bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lamu bissawaab . Kau suruh aku Jujur, aku jujur , kau tipu aku
Kau suruh aku Sabar, aku sabar, kau injak tengkukku. Aku ini harus bagaimana?
Aku Kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih, kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang, kau selalu memikirkanku, aku sapa saja, kau merasa terganggu. Kau ini bagaimana?
Kau bilang “bicaralah” , aku bicara, kau bilang, aku ciriwis
Kau bilang , “jangan banyak bicara”, aku bungkam, kau tuduh aku apatis. Aku ini harus bagaimana?.
Kau bilang,”kritiklah” ,aku kritik, kau marah
Kau bilang “carikan alternatifnya”, aku kasih alternatif, kau bilang jangan mendekte saja.Aku bilang “terserah kau”, kau tidak mau.
Aku bilang “terserah kita”, kau tak suka
Aku bilang “terserah aku”, kau memakiku. Kau ini bag aimana? Atau Aku harus bagaimana.(1987)
•
AKU HARUS BAGAIMANA
Karya KH Musthofa Bisri (Gusmus)
Kau ini bagaimana? Kau bilang, Aku ini merdeka, Kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berfikir, aku berfikir, kau tuduh aku kafir. Aku harus bagaimana
Kau bilang ,” bergeraklah” ,aku bergerak , kau curigai
Kau bilang “jangan banyak tingkah”, aku diam saja, kau waspadai. Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip,aku memegang prinsip. kau tuduh aku kaku.
Kau suruh aku toleran, aku toleran , kau bilang aku plin plan
Aku kau suruh maju , aku mau maju, kau slingkung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja, kau ganggu aku. Kau ini bagaimana
Kau suruh aku bertaqwa, khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tidak jelas arahnya
Aku kau suruh menghormati hukum , kebijaksanaanmu menyepelekannya.
Kau suruh aku disiplin, kau mencontohkan yang lain. Kau ini bagaimana?
Kau bilang “Tuhan sangat dekat”, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat.
Kua bilang, kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai. Aku harus bagaimana?
Kau Suruh aku Membangun, aku membangun, kau merusakkannya
Kau suruh aku Menabung . aku menabung, Kau menghabiskannya. Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku Menggarap sawah, sawahku kau tamani rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah,aku punya rumah, kau meratakakannya dengan tanah. Aku harus bagaimana ?
Kau larang aku berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Kau suruh aku bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lamu bissawaab . Kau suruh aku Jujur, aku jujur , kau tipu aku
Kau suruh aku Sabar, aku sabar, kau injak tengkukku. Aku ini harus bagaimana?
Aku Kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih, kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang, kau selalu memikirkanku, aku sapa saja, kau merasa terganggu. Kau ini bagaimana?
Kau bilang “bicaralah” , aku bicara, kau bilang, aku ciriwis
Kau bilang , “jangan banyak bicara”, aku bungkam, kau tuduh aku apatis. Aku ini harus bagaimana?.
Kau bilang,”kritiklah” ,aku kritik, kau marah
Kau bilang “carikan alternatifnya”, aku kasih alternatif, kau bilang jangan mendekte saja.Aku bilang “terserah kau”, kau tidak mau.
Aku bilang “terserah kita”, kau tak suka
Aku bilang “terserah aku”, kau memakiku. Kau ini bag aimana? Atau Aku harus bagaimana.(1987)
•
Selasa, 16 Desember 2008
Seri Perencanaan Keuangan 2
Perencanaan Keuangan Bagi Keluarga Penting
Mengapa Perencanaan Keuangan itu di perlukan ? jawaban sederhana adalah karena semua orang mempunyai Impian masa depan seperti dalam gambar berikut ini :
Secara fitrah terganbar diatas bahwa semua manusia menginginkan terpenuhinya kebutuhan;
1. Pendidikan anak yang mandiri hingga Sarjana bahkan hingga Pasca Sarjana
2. Rumah yang luas sebagai tempat berkumpul dan berlindung bagi keluarga
3. Kendaraan yang bagus sebagai sarana transportasi
4. Uang yang cukup dalam pemenuhan setiap kebutuhan tercapai
5. Dan Menunaikan Ibadah Haji sebagai penyempurna Ibadah Rukun Islam.
6. Serta Menikmati hari Pensiun tiba dengan bahagia dan tercukupi kebutuhan.
Semua hal terbut tidaklah berlebihan karena juga ada Dalam al-qur’an :
14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[*] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Ruang Lingkup Perencanaan Keuangan
Secara bertahap mudah mudahan bisa kita bahas ruang lingkup Perencanaan Keuangan bagi Keluarga Muslim;
Diantara Ruang Lingkup pembahasan adalah sebagi berikut :
1. Pengaturan aset komsumtif dalam pemenuhan kebutuhan jangka pendek.
2. Perencanaan kebutuhan Pendidikan
3. Perencanaan Keuangan masa Pensiun
4. Mempersiapkan Dana Cadangan Darurat
5. Perencanaan Investasi
6. Memilih Asuransi Sebagai Proteksi
7. Perencanaan Warisan
8. Pengelolaan Zakat
9. Pembayaran Pajak
Dari daftar ruang lingkup perencanaan keuangan tersebut kita akan bahas satu persatu secara berkesinambungan, tentunya di sesuaikan dengan kebutuhan mana yang harus menjadi skala prioritas pembahasan.
Wallhu a’lam Bishowab
Abdillah Asyari Suparmin
Mengapa Perencanaan Keuangan itu di perlukan ? jawaban sederhana adalah karena semua orang mempunyai Impian masa depan seperti dalam gambar berikut ini :
Secara fitrah terganbar diatas bahwa semua manusia menginginkan terpenuhinya kebutuhan;
1. Pendidikan anak yang mandiri hingga Sarjana bahkan hingga Pasca Sarjana
2. Rumah yang luas sebagai tempat berkumpul dan berlindung bagi keluarga
3. Kendaraan yang bagus sebagai sarana transportasi
4. Uang yang cukup dalam pemenuhan setiap kebutuhan tercapai
5. Dan Menunaikan Ibadah Haji sebagai penyempurna Ibadah Rukun Islam.
6. Serta Menikmati hari Pensiun tiba dengan bahagia dan tercukupi kebutuhan.
Semua hal terbut tidaklah berlebihan karena juga ada Dalam al-qur’an :
14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[*] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Ruang Lingkup Perencanaan Keuangan
Secara bertahap mudah mudahan bisa kita bahas ruang lingkup Perencanaan Keuangan bagi Keluarga Muslim;
Diantara Ruang Lingkup pembahasan adalah sebagi berikut :
1. Pengaturan aset komsumtif dalam pemenuhan kebutuhan jangka pendek.
2. Perencanaan kebutuhan Pendidikan
3. Perencanaan Keuangan masa Pensiun
4. Mempersiapkan Dana Cadangan Darurat
5. Perencanaan Investasi
6. Memilih Asuransi Sebagai Proteksi
7. Perencanaan Warisan
8. Pengelolaan Zakat
9. Pembayaran Pajak
Dari daftar ruang lingkup perencanaan keuangan tersebut kita akan bahas satu persatu secara berkesinambungan, tentunya di sesuaikan dengan kebutuhan mana yang harus menjadi skala prioritas pembahasan.
Wallhu a’lam Bishowab
Abdillah Asyari Suparmin
Senin, 15 Desember 2008
Sebuah Renungan
Jadilah Anda Sebagai Muslim/Muslimah
Jadilah Anda Muslim dalam Badanmu !
Jadilah Anda Muslim dalam akhlaqmu !
Jadilah Anda Muslim dalam Pemikiranmu !
Jadilah Anda Muslim dalam kasabmu !
Jadilah Anda Muslim dalam akidahmu !
Jadilah Anda Muslim dalam ibadahmu !
Jadilah Anda Muslim dalam dirimu !
Jadilah Anda Muslim dalam waktumu !
Jadilah Anda Muslim dalam semua urusanmu !
Jadilah Anda Muslim dalam bersama yang lain !
Jadilah Anda Muslim dalam Badanmu !
Jadilah Anda Muslim dalam akhlaqmu !
Jadilah Anda Muslim dalam Pemikiranmu !
Jadilah Anda Muslim dalam kasabmu !
Jadilah Anda Muslim dalam akidahmu !
Jadilah Anda Muslim dalam ibadahmu !
Jadilah Anda Muslim dalam dirimu !
Jadilah Anda Muslim dalam waktumu !
Jadilah Anda Muslim dalam semua urusanmu !
Jadilah Anda Muslim dalam bersama yang lain !
Minggu, 14 Desember 2008
Seri Perencanaan Keuangan
PERENCANANAAN KELUARGA KELUARGA MUSLIM
Manusia adalah khalifah di muka, Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah kepada sang khalifah agar di pergunakan sebaik baiknya bagi kesehjahteraan bersama.
Untuk mencapai tujuan suci ini Allah memberikan petunjuk melalui para Rasul Nya. Petunjuk tersebut meliputi yang di butuhkan manusia , baik aqidah, akhlaq maupun syariah.
Konsep Syariah dalam pandangan Islam bersifat komprehensif dan Universal, yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik terkait dengan ibadah maupuun muamalah.
Dalam rangka menjalankan misi tersebut manusia , di haruskan berikhtiar secara maximal dan seimbang antara duniawi dengan ukhrowi sebagaimana firmah Allah dalam Alqur’an:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash : 77)
Secara Umum Tugas kekhalifahan manusia adalah mewujudkan kemakmuran dan kesehjahter aan, dengan dalam hidup dan kehidupan, dengan demikian Islam menharuskan bukan saja mencari harta dalam pemenuhan kebutuhan namun juga menglolanya harta yang di dapatkannya, dalam ilmu modern sekarang ini sering di sebut dengan Financial Planning atau perencanaan Keuangan.
Pandangan Islam Tentang Harta
Sebelum membahas jauh tentang Perencanaan Keuangan , perlu diketahui terlebih dahulu status harta dalam pandangan Islam
1. Harta merupakan milik Allah SWT, yang “dititipkan” dan “dipinjamkan” kepada manusia untuk dikelola secara baik dan bermanfaat bagi banyak orang.
ءَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (QS. 57 ; 7)
2. Islam memandang harta yang baik adalah jika berada ditangan orang-orang yang baik.
رِجَالٌ لاَ تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَاْلأَبْصَارُ
laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. 24 : 37)
3. Islam mengharamkan segala jenis income yang bersumber dari yang kotor dan tidak halal.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, dan Allah tidak akan menerima (suatu amal), kecuali yang baik (halal) pula. (HR. Muslim)
4. Harta dalam Islam adalah sebagai sarana untuk taqarrub kepada Allah SWT.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. 63:9)
5. Penggunaan harta dalam Islam, tidak boleh terlalu kikir namun juga tidak boleh terlalu berlebihan.
وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 64 : 16)
6. Hak Orang Lain Atas Harta
Harta yang kita peroleh ada hak orang lain yang diamanahkan melalui kita, baik yang sifatnya
wajib yakni Zakat maupun infak yang sifatnya sunnah.
a. Zakat
(QS. 51 : 19)
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.
b. Infak/ Tabarru' :
(QS. 63 : 10)
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"
7. Perkara yang dihisab dan dimintai pertanggungjawaban di yaumil qiyamah:
Islam memberikan pembelajaran kepada ummatnya agar bertanggung jawab atas apa yang sudah di lakukan di Dunia untuk pertanggungjawabkan di akhirat nanti.
Menurut Hadits yang di Riwayatkan Imam Abu Dawut ada 4 hal yang akan di mintakan per tanggung jawaban di Yaumil akhir yaitu :
n Umur untuk apa dihabiskan
n Jasad untuk apa digunakan
n Harta untuk apa diperdayakan
n Ilmu untuk apa diamalkan
“ Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)
(QS. Ya Sin Ayat 12)
Manfaat Perencanaan Keuangan
Masa depan sangat di tentukan dari apa yang sudah di ikhtiarkan hari ini, sehingga perlu sebuah perencanan yang baik termasuk mengevaluasi secara berkala, hal ini sesuai dengan firman Allah :
“ Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah diantara diri merencanakan untuk kehidupan hari esok, bertaqwalah kepada Allah Sesungguhnya allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Hasyr : 18 )
Manfaat Perencanaan Keuangan
Diantara manfaat perencanaan keuangan bagi keluarga Muslim adalah sebagai berikut :
n Meningkatkan efektifitas dalam mencari, menggunakan dan memproteksi sumber daya keuangan.
n Meningkatkan kontrol terhadap kegiatan keuangan dengan menghindari hutang yang berlebihan, kebangkrutan, dan ketergantungan terhadap orang lain secara finansial.
n Meningkatkan kualitas hubungan personal dengan adanya perencanaan yang baik dan efektifitas komunikasi ketika mengambil keputusan finansial.
n Kebebasan dari kekhawatiran finansial dengan cara melihat masa depan, mengantisipasi kebutuhan biayanya, dan mencapai tujuan keuangan yang diinginkan.
Faktor Penghambat
Perncanaan keuangan memang termasuk hal yang baru di kalangan masyarakat Indonesia khususnya ummat Islam, sehingga masih terdapat kendala kendala dalam mengikuti atau melaksanakan perencanaan keuangan tersebut :
Diantara factor penghambat tersebut adalah sebagai berikut :
n Kesadaran masyarakat yang rendah
n Persepsi: “Perencanaan keuangan hanyalah untuk orang kaya”
n Tidak mempunyai tujuan keuangan yang jelas
n Keterbatasan waktu
n Keterbatasan ilmu dan pengetahuan bagaimana mengelola keuangan keluarga yang baik
n Belum mampu memilih produk keuangan yang semak
Oleh Abdillah Asyari
Manusia adalah khalifah di muka, Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah kepada sang khalifah agar di pergunakan sebaik baiknya bagi kesehjahteraan bersama.
Untuk mencapai tujuan suci ini Allah memberikan petunjuk melalui para Rasul Nya. Petunjuk tersebut meliputi yang di butuhkan manusia , baik aqidah, akhlaq maupun syariah.
Konsep Syariah dalam pandangan Islam bersifat komprehensif dan Universal, yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik terkait dengan ibadah maupuun muamalah.
Dalam rangka menjalankan misi tersebut manusia , di haruskan berikhtiar secara maximal dan seimbang antara duniawi dengan ukhrowi sebagaimana firmah Allah dalam Alqur’an:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash : 77)
Secara Umum Tugas kekhalifahan manusia adalah mewujudkan kemakmuran dan kesehjahter aan, dengan dalam hidup dan kehidupan, dengan demikian Islam menharuskan bukan saja mencari harta dalam pemenuhan kebutuhan namun juga menglolanya harta yang di dapatkannya, dalam ilmu modern sekarang ini sering di sebut dengan Financial Planning atau perencanaan Keuangan.
Pandangan Islam Tentang Harta
Sebelum membahas jauh tentang Perencanaan Keuangan , perlu diketahui terlebih dahulu status harta dalam pandangan Islam
1. Harta merupakan milik Allah SWT, yang “dititipkan” dan “dipinjamkan” kepada manusia untuk dikelola secara baik dan bermanfaat bagi banyak orang.
ءَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (QS. 57 ; 7)
2. Islam memandang harta yang baik adalah jika berada ditangan orang-orang yang baik.
رِجَالٌ لاَ تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَاْلأَبْصَارُ
laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. 24 : 37)
3. Islam mengharamkan segala jenis income yang bersumber dari yang kotor dan tidak halal.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, dan Allah tidak akan menerima (suatu amal), kecuali yang baik (halal) pula. (HR. Muslim)
4. Harta dalam Islam adalah sebagai sarana untuk taqarrub kepada Allah SWT.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. 63:9)
5. Penggunaan harta dalam Islam, tidak boleh terlalu kikir namun juga tidak boleh terlalu berlebihan.
وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 64 : 16)
6. Hak Orang Lain Atas Harta
Harta yang kita peroleh ada hak orang lain yang diamanahkan melalui kita, baik yang sifatnya
wajib yakni Zakat maupun infak yang sifatnya sunnah.
a. Zakat
(QS. 51 : 19)
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.
b. Infak/ Tabarru' :
(QS. 63 : 10)
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"
7. Perkara yang dihisab dan dimintai pertanggungjawaban di yaumil qiyamah:
Islam memberikan pembelajaran kepada ummatnya agar bertanggung jawab atas apa yang sudah di lakukan di Dunia untuk pertanggungjawabkan di akhirat nanti.
Menurut Hadits yang di Riwayatkan Imam Abu Dawut ada 4 hal yang akan di mintakan per tanggung jawaban di Yaumil akhir yaitu :
n Umur untuk apa dihabiskan
n Jasad untuk apa digunakan
n Harta untuk apa diperdayakan
n Ilmu untuk apa diamalkan
“ Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)
(QS. Ya Sin Ayat 12)
Manfaat Perencanaan Keuangan
Masa depan sangat di tentukan dari apa yang sudah di ikhtiarkan hari ini, sehingga perlu sebuah perencanan yang baik termasuk mengevaluasi secara berkala, hal ini sesuai dengan firman Allah :
“ Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah diantara diri merencanakan untuk kehidupan hari esok, bertaqwalah kepada Allah Sesungguhnya allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Hasyr : 18 )
Manfaat Perencanaan Keuangan
Diantara manfaat perencanaan keuangan bagi keluarga Muslim adalah sebagai berikut :
n Meningkatkan efektifitas dalam mencari, menggunakan dan memproteksi sumber daya keuangan.
n Meningkatkan kontrol terhadap kegiatan keuangan dengan menghindari hutang yang berlebihan, kebangkrutan, dan ketergantungan terhadap orang lain secara finansial.
n Meningkatkan kualitas hubungan personal dengan adanya perencanaan yang baik dan efektifitas komunikasi ketika mengambil keputusan finansial.
n Kebebasan dari kekhawatiran finansial dengan cara melihat masa depan, mengantisipasi kebutuhan biayanya, dan mencapai tujuan keuangan yang diinginkan.
Faktor Penghambat
Perncanaan keuangan memang termasuk hal yang baru di kalangan masyarakat Indonesia khususnya ummat Islam, sehingga masih terdapat kendala kendala dalam mengikuti atau melaksanakan perencanaan keuangan tersebut :
Diantara factor penghambat tersebut adalah sebagai berikut :
n Kesadaran masyarakat yang rendah
n Persepsi: “Perencanaan keuangan hanyalah untuk orang kaya”
n Tidak mempunyai tujuan keuangan yang jelas
n Keterbatasan waktu
n Keterbatasan ilmu dan pengetahuan bagaimana mengelola keuangan keluarga yang baik
n Belum mampu memilih produk keuangan yang semak
Oleh Abdillah Asyari
Istiqamah sebagai Kunci Sukses
Assalamualaikum wr.wb.
Semoga Allah Tuhan yang maha Adil senantiasa membimbing kita agar terhindar dari perbuatan yang tiada makna dan manfaat dalam hidup dan kehidupan.
Mari kita renungkan sebuah kisah berikut ini.
Suatu hari di sebuah padang pasir Nabiyulloh Muhammmad SAW. Memanggil dan mengumpulkan para Sahabat,
"Wahai para sahabat semua aku perintahkan kalian untuk mencari kayu "
beberapa sahabat memprotes " Ya Rsululloh, ini adalah padang pasir, kalau pasir dan batu akan kita dapatkan dalam jumlah yang banyak, tapi mana ada di padang pasir ini tumbuh pohon pohonnan" suatu diplomasi yang sekilas masuk akal.
Rasululloh mengulangi " Wahai Sahabt aku perintahkan kalian menjacari kayu' dengan nada yang lebih tinggi
Masih ada sahabat lain yang menimpali " Ya Rasululloh mana mungkin kami dapatkan kayu tempat seperti ini"
Dengan nada keras beliau ulang sekali lagi " Waha para sahabat aku perintahkan kalian mencari kayu"
Akhirnya semua sahabat tadi berangkat bertebaran ke seluruh penjuru.
satu dua jam berikutnya ternyata tidak ada satupun sahabat yang tidak mendapatkna kayu bakar. bahkan ada yang mengatakan ' Ya Rasululloh adakah di antara sahabat yang belum mendapatkannya, sesungguhnya aku tahu tempat di mana jumlah kayu sangat banyak'
Kisah ini kiranya dapat kita pelajari dan ambil hikmahnya
1. Bila Allah dan Rasulnya memerintah sesuatu maka tidak ada jawaban kecuali "Sami'na wa atho'na.. saya dengar dan saya Taat, bukan saya dengar kemudian pikir pikir dulu.."
betapa dalam berbagai kesempatan di buktikan ketaatanpara sahabat setiap turun wahyu. dan di sambut dengan luar biasa dalam ketaatan misalnya saat di haramkannya Kamr, maka semua sahabat yang memiliki kamr dia musnahkan seketika hingga di spanjang jalan dan bau kamr baru hilang dalam waktu yang lama.
kedua Suatu amal keaikan bila di kerjakan dengan sungguh sungguh dan istiqamah akan menghasilkan suatu yang luar biasa, misalnya dalam menununtut ilmu bila srius dan sungguh sungguh dan terus menerus sesulit apapun akan dapat di kuasanya,
" Barang siapa yang mengatakan tiada Tuhan selain Allah dan kemudian istiqamah makan Allah akan menurunkan malaikat malaikat dan mengatakan jangan lah kau bersedih karena sesungguhnya Allah telah menurunkan malaikt malaikat yang membawa kabar gembira dan memberika surga bagi mereka' Fushilat : 30
Ketiga hati hati dengan kesalahan, ikuti sebauah kesalahan dengan segera istifar memohon ampun dan segera ikuti dengan kebaikan, karena kesalahan yang kecil tidak segera mohon ampun akan menyebabkan noda noad hitam dalam hati kita yang pada akhirnya hatinya menjadi gelap dan tertutup.
sebuah pesan bijak orang tua kita hati hati dengan kesalahan kecil, karna tidak ada orang yang jatuh karena menabrak gunung tetapi betapa banyak orang terjatuh karena terpelesat kulit pisang'.
wallohu a'lam
(disarikan dari ceramah yang di sampaikan oleh asyari pada Paguyuban Pangudi rahayu tgl. 14 Desember Di Susukan Ciracas Jakarta Timur)
Semoga Allah Tuhan yang maha Adil senantiasa membimbing kita agar terhindar dari perbuatan yang tiada makna dan manfaat dalam hidup dan kehidupan.
Mari kita renungkan sebuah kisah berikut ini.
Suatu hari di sebuah padang pasir Nabiyulloh Muhammmad SAW. Memanggil dan mengumpulkan para Sahabat,
"Wahai para sahabat semua aku perintahkan kalian untuk mencari kayu "
beberapa sahabat memprotes " Ya Rsululloh, ini adalah padang pasir, kalau pasir dan batu akan kita dapatkan dalam jumlah yang banyak, tapi mana ada di padang pasir ini tumbuh pohon pohonnan" suatu diplomasi yang sekilas masuk akal.
Rasululloh mengulangi " Wahai Sahabt aku perintahkan kalian menjacari kayu' dengan nada yang lebih tinggi
Masih ada sahabat lain yang menimpali " Ya Rasululloh mana mungkin kami dapatkan kayu tempat seperti ini"
Dengan nada keras beliau ulang sekali lagi " Waha para sahabat aku perintahkan kalian mencari kayu"
Akhirnya semua sahabat tadi berangkat bertebaran ke seluruh penjuru.
satu dua jam berikutnya ternyata tidak ada satupun sahabat yang tidak mendapatkna kayu bakar. bahkan ada yang mengatakan ' Ya Rasululloh adakah di antara sahabat yang belum mendapatkannya, sesungguhnya aku tahu tempat di mana jumlah kayu sangat banyak'
Kisah ini kiranya dapat kita pelajari dan ambil hikmahnya
1. Bila Allah dan Rasulnya memerintah sesuatu maka tidak ada jawaban kecuali "Sami'na wa atho'na.. saya dengar dan saya Taat, bukan saya dengar kemudian pikir pikir dulu.."
betapa dalam berbagai kesempatan di buktikan ketaatanpara sahabat setiap turun wahyu. dan di sambut dengan luar biasa dalam ketaatan misalnya saat di haramkannya Kamr, maka semua sahabat yang memiliki kamr dia musnahkan seketika hingga di spanjang jalan dan bau kamr baru hilang dalam waktu yang lama.
kedua Suatu amal keaikan bila di kerjakan dengan sungguh sungguh dan istiqamah akan menghasilkan suatu yang luar biasa, misalnya dalam menununtut ilmu bila srius dan sungguh sungguh dan terus menerus sesulit apapun akan dapat di kuasanya,
" Barang siapa yang mengatakan tiada Tuhan selain Allah dan kemudian istiqamah makan Allah akan menurunkan malaikat malaikat dan mengatakan jangan lah kau bersedih karena sesungguhnya Allah telah menurunkan malaikt malaikat yang membawa kabar gembira dan memberika surga bagi mereka' Fushilat : 30
Ketiga hati hati dengan kesalahan, ikuti sebauah kesalahan dengan segera istifar memohon ampun dan segera ikuti dengan kebaikan, karena kesalahan yang kecil tidak segera mohon ampun akan menyebabkan noda noad hitam dalam hati kita yang pada akhirnya hatinya menjadi gelap dan tertutup.
sebuah pesan bijak orang tua kita hati hati dengan kesalahan kecil, karna tidak ada orang yang jatuh karena menabrak gunung tetapi betapa banyak orang terjatuh karena terpelesat kulit pisang'.
wallohu a'lam
(disarikan dari ceramah yang di sampaikan oleh asyari pada Paguyuban Pangudi rahayu tgl. 14 Desember Di Susukan Ciracas Jakarta Timur)
Kamis, 11 Desember 2008
Membangun INSAN KARIMA
Membangun Insan Karima
Sudah menjadi suatu fitrah manusia yang di ciptakan oleh Allah sebagai khlifah di muka bumi ini untuk menjalankan sebuah missi Rahmatalil "alamin. "menjadi rahmah bagi sekalian alam'
artinya keberadaan manusia bukan hanya untuk dirinya atau lingkup keluarga, tapi juga seluruh makluk Allah, baik sesama manusia, hewandan tumbuhan serta makhluk lainnya.
"Sesungguhnya tidak Aku utus Engkau (wahai Muhammad) kecuali membawa Ratmat bagi sekaliaan alam"
Terciptanya hal tersebut bukanlah hal yang mudah, hambatan rintangan akan selalu ada, sarana yang tepat adalah dengan menumbuh subur kan dakwah dalam seluruh aspek kehidupan, Kiprah ini merupakan jalan dalam rangka menegakkan Dinnullah dan Allah menjamin kepastian akan kejayaannya
"Hai orang orang yang beriman, barang siapa yang menolong aqama Allah, Niscaya Allah akan meneguhkan kedudukan yang Mulia" (Muhammad ayat 7)
Keberhasilan Dakwah adalah simbul kejayaan Islam, Memang Islam sebagai Dinnullah telah di jamin langgeng sampai yaumil qiyamah, tapi siapa yang akan menjamin nilai nilai Islam tetap tegak di Negri ini ?
Contoh sederhana 20 tahun yang lalu sesorang pemuda dan pemudi bergandengan atau yang keren di sebut dengan pacaran adalah hal yang tabu, tapi saat ini anak anak SD pun justru malu bila belum punya pacar.
Lalu tanggung jawab siapa dakwah tersebut tegak ?
Ustad kah, Kiai, Ulama, Guru , Depag, Pesantren ?
Tentu jawabnya menjadi Tugas dan tanggung jawab semua umat Islam tentunya semua dengan bidang masing masing.
Marilah bersama sama ini bangun diri, keluarga, jamaah dan negri kita menjadi sebuah negri yang seperti di sebutkan dalam Alqur,an Al araf 96
" Jika sekiranya sebuah negri menjadi beriman dan bertaqwa maka allah akan jadikan negeri tersebut Keberkahan dari segala penjuru..."
Wallohu a'lam bishowab.
Asyari
Sudah menjadi suatu fitrah manusia yang di ciptakan oleh Allah sebagai khlifah di muka bumi ini untuk menjalankan sebuah missi Rahmatalil "alamin. "menjadi rahmah bagi sekalian alam'
artinya keberadaan manusia bukan hanya untuk dirinya atau lingkup keluarga, tapi juga seluruh makluk Allah, baik sesama manusia, hewandan tumbuhan serta makhluk lainnya.
"Sesungguhnya tidak Aku utus Engkau (wahai Muhammad) kecuali membawa Ratmat bagi sekaliaan alam"
Terciptanya hal tersebut bukanlah hal yang mudah, hambatan rintangan akan selalu ada, sarana yang tepat adalah dengan menumbuh subur kan dakwah dalam seluruh aspek kehidupan, Kiprah ini merupakan jalan dalam rangka menegakkan Dinnullah dan Allah menjamin kepastian akan kejayaannya
"Hai orang orang yang beriman, barang siapa yang menolong aqama Allah, Niscaya Allah akan meneguhkan kedudukan yang Mulia" (Muhammad ayat 7)
Keberhasilan Dakwah adalah simbul kejayaan Islam, Memang Islam sebagai Dinnullah telah di jamin langgeng sampai yaumil qiyamah, tapi siapa yang akan menjamin nilai nilai Islam tetap tegak di Negri ini ?
Contoh sederhana 20 tahun yang lalu sesorang pemuda dan pemudi bergandengan atau yang keren di sebut dengan pacaran adalah hal yang tabu, tapi saat ini anak anak SD pun justru malu bila belum punya pacar.
Lalu tanggung jawab siapa dakwah tersebut tegak ?
Ustad kah, Kiai, Ulama, Guru , Depag, Pesantren ?
Tentu jawabnya menjadi Tugas dan tanggung jawab semua umat Islam tentunya semua dengan bidang masing masing.
Marilah bersama sama ini bangun diri, keluarga, jamaah dan negri kita menjadi sebuah negri yang seperti di sebutkan dalam Alqur,an Al araf 96
" Jika sekiranya sebuah negri menjadi beriman dan bertaqwa maka allah akan jadikan negeri tersebut Keberkahan dari segala penjuru..."
Wallohu a'lam bishowab.
Asyari
Langganan:
Komentar (Atom)